MANAGED BY:
SABTU
19 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 20 Oktober 2016 14:36
Kisah Dua Desa Tua di Martapura, Jadi Tempat Pemakaman Para Datu
JADI TEMPAT ZIARAH - Makam datu bagul di Desa Keramat Baru, Martapura Timur yang juga sering dikunjungi peziarah dari luar daerah

PROKAL.CO,

Dua desa tua bersejarah itu memang berada bersebelahan, namun berdasarkan letak geografisnya keduanya berada di dua kecamatan berbeda. Desa Tungkaran berada di Kecamatan Martapura, sementara Desa Keramat Baru di Kecamatan Martapura Timur.

Dari Kota Martapura, jika ingin mendatangi dua desa tersebut hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 15 menit dengan melintasi Jalan Martapura Lama. Sangat mudah mengenali kedua desa itu, sebab jika sudah sampai di sana akan banyak ditemukan tulisan kayu penunjuk arah lokasi makam para Datu.

Total ada sekitar tujuh kubah di dua desa itu, yaitu empat kubah ada di Desa Tungkaran dan dua kubah lainnya berada di Desa Keramat. Kubah yang paling sering didatangi para peziarah ialah makam Datu Bajut dan Datu Mar'ie di Desa Tungkaran, sedangkan di Desa Keramat kubah yang terkenal ialah makam Datu Bagul atau Syekh Aminullah.

Namun meski begitu bukan berarti empat kubah lainnya sepi peziarah. Makam Datu Abdullah, Datu Kalang Kala atau Said Ahdan dan makam Datu Abdullah Hatib di Desa Tungkaran juga selalu dikunjungi peziarah. Begitu pula satu makam lainnya di Desa Keramat yaitu Makam Datu Bajanggut atau Syekh Umar.

Kai Ramli, salah seorang penjaga Kubah Datu Bagul mengungkapkan, Desa Keramat dan Desa Tungkaran memang dibilang desa tua. Karena sudah ada sejak zaman Kesultanan Banjar. "Sama tuanya dengan Desa Dalam Pagar, lokasi Datu Kalampayan bertempat tinggal dulu," ungkapnya.

Ia menceritakan, Desa Tungkaran dan Desa Keramat dulu dikenal sebagai tempat dengan dataran paling tinggi. Sehingga seringkali dimanfaatkan sebagai tempat berlindung jika ingin aman dari tentara Belanda. "Bahkan kata orangtua pada zaman perang, orang-orang Belanda tidak masuk ke sini karena sudah dibentengi," ujarnya.

Selain sebagai tempat persembunyian, dua desa tua itu juga dimanfaatkan sebagai lokasi pemakaman. Sebab, hanya di sana lokasi yang memiliki daratan yang tinggi. "Kenapa di sini banyak makam? Itu karena di sini memang lokasi pemakaman, lantaran datarannya tinggi jadi makam tak terendam oleh air," kata Kai Ramli.

Kai berusia 65 tahun tersebut menambahkan, makam di Desa Tungkaran sebagian besar merupakan zuriat Datu Kalampayan. Salah satunya ialah istri pertama beliau yaitu Datu Bajut. "Datu Bajut asli orang China, setelah menikah dengan Datu Kempayan beliau tinggal di Desa Dalam Pagar. Kemudian meninggal dan dimakamkan di sini," tambahnya.

Ulama yang dimakamkan di Tungkaran karena memang bertempat tinggal di sana hanyalah Datu Mar'ie, sementara yang lainnya bertempat tinggal di luar desa. "Datu Mar'ie sendiri sebenarnya orang Nagara, tapi beliau tinggal di sini. Kalau yang lainnya orang luar, tapi karena di sini aman maka mereka dimakamkan di sini," ujar Kai Ramli.

Sementara itu, salah seorang penjaga kubah Datu Bagul, Zulkifli, menuturkan dua desa tua itu selalu didatangi para peziarah dari berbagai daerah. Di Makam Datu Bagul saja dalam sehari peziarah yang datang selalu di atas lima orang. "Peziarah ada yang datang dari Kotabaru, Rantau, Kandangan hingga Sampit," ujarnya.

Apalagi jika hari libur, peziarah yang datang akan lebih banyak. Padahal lokasi makam Datu Bagul jauh dari perkotaan. "Kalau sudah rombongan, jumlah peziarah bisa sampai 20 an orang," pungkasnya. (ris)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 19 Juni 2021 05:00

Kala Sepeda Mulai Tak Diminati Masyarakat; Harga Anjlok, Toko Sepeda Berharap PTM

Minat masyarakat bersepeda belakangan ini mulai turun. Kondisi ini membuat…

Sabtu, 12 Juni 2021 10:46

Di Balik Penantian Panjang Petahana: Ibnu Berlibur, Arifin Belajar Memasak

Ingar-bingar Pilkada sudah mereda. Pemenang pun sudah ada, tinggal dilantik.…

Jumat, 11 Juni 2021 13:34

Berburu Kue Tradisional Jepa Khas Suku Mandar di Kotabaru

Jepa jadi incaran wisatawan bila berkunjung ke Kabupaten Kotabaru. Makanan…

Kamis, 10 Juni 2021 16:33

Membawa Demokrasi ke Para Lansia, Jemput Bola ke Kampung-Kampung

Demokrasi bukan hanya masalah pemenang pilkada. Tetapi juga memastikan semua…

Rabu, 09 Juni 2021 15:49

Terima Jasa Jahit, Sebulan Raup Jutaan Rupiah, Begini Cara Mahasiswa Gunakan Waktu Kosong Kuliah Saat Pandemi

Selama pandemi Covid-19, aktivitas di kampus ditiadakan. Perkuliahan pun terpaksa…

Rabu, 09 Juni 2021 15:43

KPK The EndGame, Bukan Saatnya untuk Pesimis

The EndGame merekam kesaksian sejumlah pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)…

Sabtu, 05 Juni 2021 13:19

Job MC Sepi, Terpaksa Jual Rumah, Begini Nasib Para Pelaku Entertainment Banua di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 yang menghantam Banua setahun terakhir sudah berdampak ke…

Jumat, 04 Juni 2021 14:33

Melihat Ujian SIM D Bagi Disabilitas di Polres Banjarbaru

Meski punya keterbatasan fisik, tidak menghalangi setiap orang untuk mendapatkan…

Jumat, 04 Juni 2021 10:33

"Tolong! Sakit, Sayang" Begini Pengakuan Pemutilasi di Banjarmasin

Seumur hidupnya, Harry Purwanto takkan bisa melupakan teriakan sang teman…

Kamis, 03 Juni 2021 07:18

Curhat Warga di Batas Kota: Mungkin Hanya Dikira Hutan

Sebagai peringatan kepada pengendara, di bagian jalan yang mengalami abrasi,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers