MANAGED BY:
KAMIS
24 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Rabu, 16 November 2016 09:24
Pendidikan yang Seimbang

Oleh: NURUL ANDI ASWORO, S.Pd*

Ilustrasi

PROKAL.CO, Setiap anak adalah jenius. Tapi, kalau kalian menilai ikan dari caranya memanjat pohon, maka dia akan merasa bodoh seumur hidupnya.

(Albert Einstein)


Potensi anak adalah hal yang paling misterius. Guru sebagai pendidik memegang peranan yang sangat strategis terutama dalam membentuk watak bangsa serta mengembangkan potensi seorang anak. Meski zaman telah menjadi demikian maju dan teknologi bisa mengisi dan mempermudah seseoranng untuk belajar, tetapi kehadiran guru tidak tergantikan oleh unsur yang lain untuk mendorong seorang anak menjadi ahli dalam bidang yang dipilih dan disukainya. Dengan kata lain, guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan.

Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Penyampaian materi pelajaran hanyalah merupakan salah satu dari berbagai kegiatan dalam belajar, tetapi guru bisa dikatakan berhasil jika mampu membuka pintu untuk anak melangkah dalam bidangnya. Mengapa hal ini penting?

Menurut UU Sisdiknas, pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan. Pengertian tersebut memberikan gambaran betapa pendidikan harus berorientasi pada pengembangan potensi anak.

Itu berarti tugas guru adalah memfasilitasi anak agar mengenali potensi dirinya. Harus diakui bahwa tugas mendampingi anak agar mengenali potensi diri sering dilupakan. Orang tua bahkan terkadang kurang memperhatikan potensi anaknya. Idealnya guru dan orang tua bersinergi untuk mengembangkan potensi anak agar meraih kesuksesan dalam kehidupan pada masa mendatang. Pendidikan adalah tanggungjawab bersama yang tidak bisa “dilemparkan” kepada satu pihak saja.

Guru dan orangtua harusmeyakini bahwa setiap anak memiliki potensi istimewa yang dianugerahkan Tuhan. Karena itu, tidak boleh ada kategori anak “bodoh” atau “nakal”. Setiap anak memiliki kecerdasan yang sangat unik dan bervariasi. Albert Einstein pernah mengatakan dalam kutipannya yang terkenal: Setiap anak adalah jenius. Tapi, kalau kalian menilai ikan dari caranya memanjat pohon, maka dia akan merasa bodoh seumur hidupnya.

Keahlian ikan berdasarkan habitat alamiahnya adalah menyelam dan hidup di air. Sementara, memanjat adalah keahlian orang utan, bekantan atau kera. Tidak bisa dibalik-balik atau dipaksakan.

Ini hanyalah ilustrasi bahwa semua potensi itu harus hidup dan diarahkan dalam koridor pendidikan yang sesuai. Pada konteks inilah orang tua, guru, dan peserta didik harus berkomunikasi secara timbal balik agar dapat menemukan potensi yang akan dikembangkan.

Yang penting diingat bahwa dalam dunia pendidikan potensi itu tidak harus bersifat akademik, tapi juga nonakademik. Menurut taksonomi Bloom (1968), pendidikan harus berorientasi pada tiga ranah yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik. Secara jujur harus diakui bahwa budaya masyarakat masih menempatkan capaian akademik di atas prestasi nonakademik.

Anak yang misalnya berhasil memiliki kekayaan materi dianggap lebih sukses dibanding anak yang berkiprah dalam bidang keilmuan. Banyak orang tua yang memilih anaknya menjadi “bos” dibandingkan menjadi dosen atau professor dan guru besar.

Sebaliknya pula, ada orang tua yang memaksakan anaknya menjadi pegawai negeri, guru atau dosen padahal anaknya lebih berbakat di bidang lainnya, semisal atletik atau sepak bola.

Dalam perspektif pendidikan, keinginan mengukur capaian akademik dan mengabaikan prestasi nonakademik itu terlihat jelas dari kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Kebijakan ini terasa kurang bersahabat pada anak yang memiliki bakat luar biasa di bidang nonakademik. Rasanya sudah saatnya kebijakan pemerintah diarahkan untuk memberikan penghargaan yang lebih proporsional terhadap prestasi nonakademik.

Kita harus menyadari bahwa capaian akademik dan nonakademik itu sama-sama dibutuhkan untuk sukses hidup. Itu berarti profesi sebagai ilmuwan sama terhormatnya dengan atlet, pekerja seni, dan entrepreneur. Karena itu, tidak salah jika dikatakan bahwa Habibie (ilmuwan), Rudi Hartono (atlet), Emha Ainun Najib (budayawan), dan Dahlan Iskan (pengusaha dan jurnalis) merupakan representasi orang-orang yang hebat di bidangnya.

Tidak bisa dikatakan bahwa salah satu lebih baik dari yang lain. Yang dibutuhkan justru saling bersinergi untuk membangun bangsa sehingga menjadi unggul dan bermartabat. Persoalan politik yang mengakibatkan sistem pendidikan terbelah menjadi dua atap; Kemendikbud dan Kemenag, juga harus dicarikan solusi. Penerapan sistem pendidikan dua atap selain mengakibatkan ketimpangan mutu, juga menjadikan pembedaan ilmu umum dan ilmu agama kian membesar. Harusnya seimbang, karena anak membutuhkan dua hal tersebut untuk mencapai tujuan di dunia dan di akhirat.

Sudah seharusnya pemerintah melalui Kemendikbud dan Kemenag saling bertegur sapa untuk merumuskan formula agar sistem pendidikan nasional tidak terpolarisasi menjadi dua atap. Pemerintah harus didorong untuk mewujudkan pendidikan yang menyeluruh. Pendidikan ini dapat dipahami sebagai pendidikan yang menggabungkan semua potensi manusia; intelektual, emosional, spiritual, sosial, kultural, dan fisikal.

Mengutip pendapat tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara, pendidikan dikatakan sebagai daya upaya untuk mengembangkan budi pekerti (kekuatan batin, hati), pikiran (otak, intellect), dan tubuh anak (raga). Bagian-bagian ini, menurut Ki Hajar, tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak. Pikiran Ki Hajar ini sangat relevan dengan tantangan dunia pendidikan sekarang yang semakin terpolarisasi.

Apalagi pendidikan nasional kini sedang dihadapkan pada persoalan serius berupa tawuran antar pelajar, human trafficking, ketakjujuran saat ujian, dan kurang berkarakter. Pada konteks inilah seluruh stakeholders pendidikan seharusnya bersinergi untuk mengembangkan pendidikan yang menyeluruh. Kita berharap akan terwujud pendidikan manusia seutuhnya seperti yang selama ini dicita-citakan.

Amien.

*Guru SMKN 1 Sungai Pinang


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*