MANAGED BY:
KAMIS
24 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Rabu, 16 November 2016 09:27
Membangkitkan Roh Pendidikan Tinggi

Oleh: Ardhie Raditya *

Ilustrasi

PROKAL.CO, PENULIS cukup sepakat dengan wacana mantan Irjen Kemendikbud Haryono Umar bahwa roh pendidikan tinggi adalah peneli­tian. Melalui koran ini, dia juga menegaskan bahwa dosen harus rajin meneliti. Meskipun demikian, membangkitkan praktik penelitian bukanlah perkara mudah. Tak semata-mata pendanaan, tapi juga menyangkut kesadaran epis­temik pemangku kebijakan pendidikannya atas paradigma penelitian itu sendiri.

Setidaknya ada empat macam paradigma penelitian. Pertama, penelitian positivistik. Atau biasa dikenal dengan penelitian kuan­titatif. Landasan filosofis penelitian tersebut adalah menganggap ada kesamaan antara kehidupan manusia dan kehidupan alam se­mesta. Sehingga diperlukan unsur-unsur objektivitas yang tinggi dalam menggali datanya. Peneliti dengan apa yang diteliti haruslah berjarak. Agar data yang didapatkan bisa bernilai absah dan tanpa campur tangan kepentingan para penelitinya. Tujuan akhirnya ia­lah menciptakan formulasi atau hukum generalisasi supaya berguna bagi semua orang. Lembaga survei politik dan Badan Pusat Statistik adalah contoh sederhana tipikal penelitian positivistik ini.

Kedua, penelitian humanistik. Atau yang dikenal dengan penelitian kualitatif. Berbeda halnya dengan penelitian positivistik. Apa­bila penelitian positivistik menganggap manusia sebagai objek pasif, penelitian humanistik berpandangan sebaliknya. Maka, peneliti bukanlah orang yang serbatahu atas fenomena sosial yang menjadi tema penelitiannya. Mereka perlu belajar dari informannya di lapangan. Sehingga pihak yang dimintai data biasanya bukan disebut responden sebagaimana lazimnya dalam riset kuantitatif. Tujuan akhirnya ialah mencoba memahami dan mendeskripsikan makna tentang berbagai macam dimensi kehidupan masyarakat bersangkutan.

Ketiga, penelitian partisipatoris. Atau biasa dikenal dengan penelitian kritis. Jenis penelitian kritis ini berbeda dengan dua paradigma penelitian di atas. Menurut penelitian kritis ini, kehidupan manusia tidak bebas nilai. Berbagai macam kepen­tingan, baik ekonomi, politik, budaya, pendidikan, maupun agama, turut bermain di dalamnya. Kepentingan itulah yang membuat kehidupan masyarakat terbelenggu sistem penindasan. Karena itu, penelitian tersebut berusaha membongkar makna ideologis yang membuat hidup masyarakat terlunta-lunta. Tujuan akhirnya, tak hanya memahami makna, tapi juga menggugah kesadaran kritis dan memberdayakan masyarakat bersangkutan.

Keempat, penelitian wacana tanda. Atau biasa dikenal dengan penelitian praktik berbahasa. Menurut anak kandung posmodern ini, bahasa tidak lagi merupakan alat komunikasi. Di dalamnya terdapat berbagai manipulasi dan hegemoni yang menjadikan manusia sebagai alat kekuasaan dan akumulasi finansial. Media massa dan media sosial adalah salah satu sumber datanya. Sebab, di sana terdapat kumpulan simbol dan tanda bahasa yang terinfeksi berbagai kepentingan. Baik kepentingan internal maupun eksternalnya. Tujuan akhirnya ialah membongkar berbagai praktik berbahasa yang menciptakan kesadaran palsu bagi masyarakat luas.

Masalahnya, di hampir setiap pendidikan tinggi, banyak salah kaprah mengenai penelitian itu sendiri. Penelitian yang ideal, bahkan dianggap memenuhi standar kelayakan, adalah penelitian yang bersifat positivistik. Sehingga setiap penelitian diharapkan bisa menghasilkan formulasi atau hukum-hukum generalisasi. Semisal, kemiskinan yang disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat di suatu daerah harus dianggap sama di daerah lainnya. Akhirnya formulasi pengentasan kemiskinan di suatu daerah tak akan banyak berfungsi di daerah lainnya. Hal semacam itu menimbulkan bias dan reduksi penelitian karena menyamaratakan karakteristik masyarakat Indonesia yang beragam.

Padahal, selain penelitian positivistik itu, harus diakui banyak hasil penelitian lainnya yang tak kalah hebat. Semisal penelitian pemberontakan petani Banten 1888 (Sartono Kartodirjo), sistem ekologis Madura (Kuntowijoyo), intelektual Indonesia (Daniel Dhakidae), cendekiawan muslim di Indonesia (Yudi Latief), dunia hitam (Ardhie Raditya), carok (Latief Wiyata), rentenir di Jawa (Heru Nugroho), dan sastra poskolonial (Faruk H.T.). Namun, rezim Orde Baru yang otoriter berhasil menyeragamkan paradigma keilmuan menjadi positivistik dan fungsionalisme (Hageman, 2012).

Memang penelitian para dosen harus dimudahkan dari berbagai keruwetan birokrasinya. Mulai perizinan hingga penyusunan laporan keuangannya. Namun, itu saja tidak cukup. Di tengah aura demokrasi sekarang ini, sudah selayaknya para pemangku kebijakan pendidikan tinggi memberikan otonomi paradigma penelitian bagi para dosennya. Sehingga hasil penelitian mereka dapat memberikan sumbangsih pengayaan ilmu pengetahuan khas Indonesia. Agar peneliti kita tak selalu mengekor dan memuja hasil riset dari orang luar saja. Akhirnya, tak ada satu pun hasil riset yang tidak berguna bagi kehidupan bangsa kita. Yang membuatnya tak berguna adalah sempitnya kesadaran epistemik seseorang terhadap multiparadigma penelitian itu sendiri. (*)

*Dosen pendidikan kritis di Sosiologi Unesa, sedang menempuh program doktoral di KBM UGM


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*