MANAGED BY:
KAMIS
24 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Jumat, 18 November 2016 14:05
Opini
Memaknai Bulan Shafar

Oleh: Ahmad Harisuddin

Ilustrasi

PROKAL.CO, Tidak ada bulan dalam kalender Hijriyah yang “lebih ditakuti” oleh sebagian masyarakat muslim nusantara melebihi Shafar. Inilah kiranya kesan pertama ketika kita mengamati fenomena sosio-religius bulan Shafar. Mengapa demikian? Tulisan ini akan mencoba menggali makna bulan Shafar, tradisi, dan sikap yang harus kita bangun sebagai orang yang beragama dalam menjalani bulan Shafar.

 

Makna Shafar

Sebagaimana kita maklumi dalam tradisi budaya kita, bulan Shafar dianggap sebagai bulan diturunkannya bala, sehingga orang sering menyebutnya sebagai bulan panas. Akan tetapi, dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa secara istilah, kita perlu membedakan antara kepercayaan tentang Shafar sebagai bulan diturunkannya bala dan kepercayaan tentang Shafar sebagai bulan sial.

Memang, kata Shafar yang berasal dari bahasa Arab memiliki sejumlah arti, di antaranya adalah kosong, kuning, dan shafar sebagai satu nama penyakit. Bulan ini dinamakan sebagai bulan Shafar dalam pengertian “kosong” karena kebiasaan orang-orang Arab zaman dulu meninggalkan tempat kediaman mereka sehingga menjadi kosong pada bulan tersebut, baik untuk berperang maupun untuk bepergian jauh. Selanjutnya penamaan bulan Shafar dalam pengertian “kuning”, karena biasanya bulan tersebut bertepatan dengan musim panas yang menyebabkan dedaunan menjadi kering dan berwarna kuning. Adapun shafar sebagai nama penyakit, adalah karena masyarakat Arab pada zaman Jahiliyah dahulu meyakini adanya penyakit berbahaya yang disebabkan oleh keberadaan ulat besar dalam perut seseorang, atau menurut pendapat lainnya adalah serangan angin panas sehingga menyebabkan sakit perut.

Keseluruhan arti shafar tersebut menunjukkan makna tidak bagus atau negatif, sehingga sangatlah wajar apabila selanjutnya hal itu memunculkan kesan bahwa bulan Shafar harus diwaspadai. Kesan seperti ini berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga saat ini.

 

Tradisi Shafar

Ada berbagai bentuk tradisi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat muslim nusantara menyangkut bulan Shafar, terutama yang berhubungan dengan hari Rabu terakhirnya. Tradisi batimbang shafar di kalangan masyarakat Banjar bersumber dari kepercayaan bahwa anak yang lahir di bulan Shafar berpotensi lebih besar menghadapi kesulitan hidup dibandingkan anak yang lahir di bulan lain, sehingga harus ditimbang melalui prosesi tertentu selama tiga tahun pertama kelahirannya. Pada hari Rabu terakhir yang disebut arba mustamir, mereka melaksanakan ritual bakilah keluar batas kampung, atau ada yang sekadar baarak mengelilingi kampung. Tradisi mandi shafar di masyarakat Melayu dan rebo wekasan di masyarakat Jawa juga dihubungkan dengan hari Rabu terakhir bulan Shafar ini.

Beragam tradisi dimaksud konon merupakan pengejawantahan ajaran yang bersumber dari para ulama klasik bahwa pada bulan Shafar ini diturunkan bala atau musibah, yang disebutkan sebanyak 320.000 bala. Semua itu diturunkan pada Rabu terakhir dari bulan Shafar, sehingga hari itu dianggap sebagai hari yang teramat berat dalam setahun; dinamakan pula yaumi nahsin mustamir, artinya hari turunnya musibah yang terus-menerus berlangsung setiap tahun. Dari sinilah munculnya istilah arba mustamir.

Pada sisi lain, di kalangan sebagian masyarakat Banjar juga ditemukan adanya tradisi keluarga melepas racun secara gaib pada bulan Shafar, sehingga bagi masyarakat sekitarnya tradisi itu berimplikasi pada berkembangnya sejumlah pantangan, antara lain tidak boleh memakan dan meminum jajanan sampai habis ketika membeli dari warung-warung lantaran beragam jajanan tersebut menjadi media yang sangat efektif dalam penyebaran racun dimaksud yang dilepas secara acak. 

 

Perspektif Islam

Kalau kita memperhatikan kitab suci Alquran, tidak ada satu pun ayat yang menyinggung persoalan kesialan bulan Shafar. Memang terdapat dua ayat yang memuat kalimat hari nahas, yaitu ayy?min nahis?t dalam Surah Fushilat: 16 dan yaumi nahsin mustamir dalam Surah al-Qamar:19, namun para mufasir menyatakan bahwa tafsir kedua ayat itu adalah hari bencana abadi bagi kaum ‘Ad, yakni umat Nabi Hud as. yang menentang seruan dakwah beliau. Diriwayatkan pula bahwa peristiwa itu berupa angin kencang yang bertiup selama 7 malam 8 hari dan terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan bersangkutan yang tidak disebutkan nama bulannya. Dalam sebagian kitab tafsir tersebut juga disebutkan penentangan para mufasir terhadap sebagian masyarakat yang memahami kata mustamir sebagai keterulangan bencana yang terus-menerus pada hari Rabu terakhir setiap bulan sampai zaman berikutnya. Mereka bahkan mengemukakan penfasiran dari generasi tabiin bahwa mustamir bermakna berlanjutnya bencana atau azab yang menimpa kaum ‘Ad itu sampai dimasukkannya mereka ke Neraka Jahannam kelak. Jadi, inti tafsir kedua ayat itu hanyalah informasi tentang sejarah kaum ‘Ad.

Sebaliknya, Allah swt. menyuruh kita untuk memantapkan keyakinan kepada-Nya bahwa ketetapan-Nya jualah setiap yang terjadi pada kita. Allah swt. berfirman yang artinya: “Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal .(QS. al-Taubah:51).

Begitu pula dalam sejarah Islam, tidak ada keterangan secara jelas bahwa Rasulullah saw. dan para Sahabat ra. membedakan perlakuan bulan shafar dengan bulan lainnya. Masing-masing bulan mempunyai sejarah dan keistimewaan sendiri. Jika bulan tertentu mempunyai sisi nilai keutamaan yang lebih, bukan berarti bulan yang lain merupakan bulan yang buruk.

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda yang artinya: “Tidak ada penyakit yang menular dengan sendiri, tidak ada kesialan dalam bulan Shafar, dan tidak ada orang mati yang menjadi hantu.”

Menurut penjelasan Imam al-Nawawiy, hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah saw. menentang kepercayaan di zaman jahiliyah yang meyakini suatu penyakit dapat menular dengan sendirinya, bukan karena ditularkan oleh Allah swt. Beliau juga menentang adanya pantangan, tabu, pemali, ataupun kesialan yang dipercaya secara berlebihan oleh orang-orang zaman jahiliyah dalam bulan shafar. Begitu pula, Beliau saw. menentang kepercayaan bahwa orang yang telah mati dapat menjadi hantu, karena memang yang menjadi hantu itu tidak lain daripada setan-setan yang bisa menyerupai manusia yang telah mati.

Senada dengan hadis tersebut, Rasulullah saw. tidak pernah tercatat dalam sejarah melarang umat Islam melangsungkan pernikahan di bulan Shafar. Beliau sendiri disebutkan dalam riwayat menikah dengan Khad?jah al-Kubr? ra. pada bulan Shafar. Begitu pula puteri tersayang beliau, Fath?mah al-Zahr? ra. dinikahkan dengan ‘Ali bin Ab? Th?lib kwj.pada bulan Shafar. Tidak hanya itu, Rasulullah saw. dan para Sahabat juga tetap berperang melawan kaum musyrikin pada bulan Shafar. Di antaranya adalah Perang al-Abwa, perang Dz?-Amin, dan perang Bi’ru Ma’?nah. Semua itu telah jelas dan tegas menunjukkan bahwa tidak ada pantangan atau kesialan untuk melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan yang besar dan mulia pada bulan Shafar.

Para dasarnya, para ulama mengajarkan bagaimana cara kita menyikapi bulan Shafar dengan tata aturan dan tradisi yang tidak berlebihan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bulan Shafar bukan disikapi dengan berpantang dari berbagai pekerjaan karena menganggap tidak akan beruntung, tetapi hendaknya disikapi dengan berbuat beragam jenis kebaikan. Sebagian ulama malah memperkenalkan istilah Shafar al-khair, maksudnya bulan Shafar yang penuh kebaikan. Hal ini tentunya dalam rangka menepis anggapan umum tentang kesialan bulan Shafar.

Secara ritual, para ulama juga memperkenalkan tradisi Shafar, dimulai dari doa yang dibaca khusus di awal bulan, kemudian terdapat doa yang dibaca setiap hari, sampai amalan salat hajat atau salat sunat mutlak, zikir, dan doa yang khusus dilakukan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Semua itu merupakan ibadah sunat yang bersifat umum dan memiliki landasan normatif dari Rasulullah saw, namun karena keperluan tertentu dikhususkan oleh para ulama dalam bulan Shafar sebagai momentum untuk lebih mengingatkan dan mendekatkan diri kepada Allah swt. dalam waktu dan kondisi yang memang sangat menghajatkan kita untuk semakin dekat dengan-Nya.

Selebihnya dari itu, kita dihadapkan pada lokus budaya yang mengitari umat Islam di berbagai penjuru bumi. Perspektif budaya harus kita pertimbangkan sebelum kita menjatuhkan vonis terhadap berbagai tradisi Shafar tersebut. Tidak arif kiranya jika kita hanya menilai tradisi hanya dari segi normativitasnya saja tanpa memberikan kesempatan kepada nilai-nilai historis Islam untuk menerangkan dirinya sendiri dalam sejumlah artikulasi budaya masyarakatnya.

Dalam konteks tradisi Shafar, memang tidak pernah diatur dalam Alquran dan Sunnah, tetapi juga tidak pernah dilarang, kecuali tradisi yang berkiblat secara jelas kepada budaya Jahiliyah pra Islam, seperti menabukan sesuatu yang halal dalam ajaran agama. Adapun sejumlah tradisi yang bertujuan menolak bala pada prinsipnya tidaklah dilarang selama tidak bertentangan dengan dasar-dasar akidah, tidak diyakini sebagai sebuah keniscayaan, tidak diyakini sebagai ajaran ibadah mahdhah, tidak bertentangan dengan ketentuan syariat, dan tidak menunjukkan kemubaziran. Wallahu a’lam.

  •  Penyuluh Agama Islam Kecamatan Loksado, Tenaga Pengajar STAI Darul Ulum Kandangan

BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*