MANAGED BY:
SENIN
06 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Senin, 12 Desember 2016 12:43
Opini
Partisipasi Publik dan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

Oleh : Tantri Verawati, S.IP, M.Si

Ilustrasi

PROKAL.CO,

MASIH lekat dalam ingatan kita kasus kekerasan terhadap anak di Bali bernama Angeline yang berakhir pada kematian tragis dengan pelaku utama adalah ibu angkatnya, sungguh memilukan. Atau kisah terbunuhnya anak di tangan ibu kandung sendiri di wilayah ibukota Jakarta yang tak kalah tragisnya. Di wilayah Kalimantan Selatan, pun tak kalah mencengangkan. Belum lama terungkap di wilayah Banjarmasin adalah kasus seorang anak di bawah umur yang disiksa oleh ibu adopsinya dan telah berlangsung lebih dari setahun yang lalu, atau yang terbaru kasus penyiksaaan terhadap anak oleh ibu tirinya. Deretan kasus-kasus pelecehan seksual dan kekerasan yang terjadi pada perempuan dan anak semakin meningkat, baik di level regional maupun nasional. Ini baru kasus yang terungkap di publik, diyakini kasus serupa laksana “gunung es”, artinya masih banyak kasus yang tidak terungkap ke tataran publik.

Kekerasan dan kejahatan seksual terhadap perempuan anak, belakangan ini semakin meresahkan. Bukan hanya aksi kekerasan dan kejahatan yang dilakukan para pelaku yang kian sadis, namun korban dan pelaku tak pandang bulu. Pelaku penganiayaan atau kejahatan seksual pada anak dan perempuan justru adalah orang-orang terdekat dari korban, keluarga atau orang tua yang seharusnya menjadi tempat berlindung bagi anak. Tak berlebihan jika kita menilai gejala ini menjadi indikasi gejala darurat sosial masyarakat. Kekerasan seolah sudah menjadi manifestasi perilaku emosional manusia ketimbang perilaku rasionalnya.

Perempuan dan Anak sebagai Korban Tindak Kekerasan

Bukanlah fenomena baru, jika perempuan dan anak adalah pihak yang paling rentan menjadi korban kekerasan. Hal ini dilatarbelakangi oleh berbagai hal, a.l fisik yang lebih rentan, kekerasan yang timbul karena tekanan ekonomi, serta kultur masyarakat yang menempatkan perempuan dan anak sebagai “peran kedua” dalam keluarga. Di berbagai masyarakat umumnya ada hubungan yang secara natural asimetri antara anak dan kaum perempuan dengan kaum dewasa lainnya, anak dan perempuan berada di posisi yang lebih rendah dan lebih lemah. Kultur yang mengakar inilah yang nantinya menjadi salah satu cikal bakal perempuan dan anak rentan menjadi korban tindakan kekerasan dan kejahatan seksual

Dampak kekerasan terhadap perempuan dan anak

Kekerasan baik itu fisik maupun psikis tentunya memiliki dampak sama fatalnya bagi perkembangan jasmani dan mental anak dan perempuan. Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh JAMA Psychiatry, menyebutkan bahwa anak-anak dan perempuan yang mengalami trauma kekerasan apapun bentuknya, akan tumbuh dengan berbagai masalah perilaku, mulai dari kecemasan, depresi, agresi hingga pemberontakan. Anak-anak dan perempuan dengan pengalaman kekerasan cenderung lebih rentan depresi, putus asa, cemas dan terserang neuroticism dibanding anak-anak dan perempuan yang tidak memiliki sejarah kekerasan dalam hidupnya. Sebagian lagi ada yang menjadi sangat pasif dan apatis, dan sulit menjalin hubungan dengan individu lain, yang terburuk adalah muncul rasa benci terhadap diri sendiri. Anak dan korban kekerasan dan kejahatan seksual bahkan cenderung memiliki potensi akan melakukan kekerasan terhadap pihak lain di masa yang akan datang, dan ini menjadi mata rantai kekerasan-kekerasan lain yang sulit diputuskan. Preseden yang sangat buruk bagi masa depan sebuah bangsa.

Dimana kehadiran masyarakat, media dan negara?

Kasus kekerasan dan kejahatan pada perempuan dan anak sering terjadi berulang dan berlangsung lama sehingga lambat dilaporkan dan ditangani, bahkan beberapa yang memilih untuk ditutupi. Kasus Angeline, kasus penyiksaaan anak adopsi di Banjarmasin  dan beberapa kasus lainnya, merupakan contoh kasus yang lambat dideteksi dan dilaporkan. Jika sudah seperti ini, kemudian pertanyaan muncul, dimana “kehadiran” masyarakat sekitar?Apakah ini menunjukkan gejala semakin meningkatnya individualitas masyarakat dan semakin menipisnya sifat kegotong royongan dan kepedulian masyarakat? Seharusnya gejala-gejala kekerasan yang terjadi di salah satu anggota masyarakatnya bisa dideteksi lebih dini jika ada keperdulian yang lebih dimiliki oleh masyarakat terhadap anggota masyarakat lain dan lingkungannya. Masyarakat berperan dalam mempersempit ruang gerak pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kondisi ini sebenarnya diuntungkan dengan jumlah masyarakat yang jauh lebih besar dibandingkan pelaku kekerasan sehingga memiliki kekuatan lebih besar untuk bisa saling mengawasi. Jika tingkat “awas” dari masyarakat terhadap tindak dan pelaku kekerasan makin tinggi, akan memiliki pengaruh dalam menekan potensi terjadinya kekerasan dan kejahatan terhadap perempuan dan anak. Masyarakat seharusnya perduli dan langsung melakukan tindakan pencegahan terjadinya kekerasan dan kejahatan pada perempuan dan anak.

Masih banyak kasus kekerasan dan kejahatan seksual pada perempuan dan anak yang belum tertangani yang salah satunya karena keengganan masyarakat untuk melaporkan. Faktor keengganan bersentuhan dengan hukum, menganggap sebagai aib yang harus ditutupi, serta ancaman-ancaman dari pihak pelaku merupakan hal yang menjadikan terlambatnya kasus-kasus seperti ini tertangani. Dalam hal ini peranan tokoh-tokoh masyarakat untuk dapat memberikan pemahaman yang baik ke masyarakat sangat diperlukan. Masyarakat dari level terkecil hingga masyarakat luas hendaknya terlibat. Lingkungan sekolah juga memiliki peran penting.

Media sebagai bagian dari publik berperan sebagai informer, interpreter, watchdog, dan memberikan advokasi kepada masyarakat sangat berpengaruh dalam menginterpretasi sebuah fenomena dan menanamkannya kepada masyarakat, dan tidak sekedar bercerita dramatis dan mengupas peristiwa. Media memiliki peran moral dalam memberikan perubahan yang lebih baik kepada masyarakat yaitu dengan mendorong pemahaman masyarakat agar peristiwa-peristiwa seperti ini tidak terulang kembali. Media juga harus lebih selektif terhadap kualitas tayangan yang disiarkan, karena bagaimanapun tayangan di media memiliki pengaruh kuat bagi moral masyarakat.

Lalu bagaimana peran negara dalam hal ini? Negara dalam hal ini pemerintah hendaknya tidak lagi hanya berfungsi sebagai “pemadam kebakaran” dalam kasus kekerasan dan kejahatan terhadap perempuan dan anak. Pemerintah dan para tokoh yang duduk dalam pemerintahan jangan lagi hanya “latah” berteriak dan mengutuk keras kejadian seperti ini saat peristiwa ini terjadi, kemudian hilang seiring dengan berlalunya waktu, sudah seharusnya mereka turut serta aktif dalam pencegahan dan penanganannya. Negara perlu melakukan upaya pencegahan komperhensif, tanpa menunggu dulu sebuah peristiwa terjdi. Negara harus hadir dalam setiap aktifitas kehidupan masyarakat dalam memberikan perlindungan dan rasa aman, khususnya bagi perempuan dan anak yang rentan menjadi korban.

Upaya pemerintah dalam memberikan perlindungan dan menekan angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak antara lain melalui usaha promotif, preventif, diagnosis, kuratif dan rehabilitasi. Melalui kegiatan penyadaran tentang efek dan bahaya dari tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak, perluasan akses ekonomi bagi perempuan, sosialisasi pelaporan kasus, termasuk dalam upaya pencegahan, sedangkan pemberian pelayanan pada pelaporan kasus, rehabilitasi, pendampingan dll termasuk dalam tindakan sosialisasi pengetahuan tentang alur pelaporan kasus, bagaimana dan kepada siapa melaporkan, serta hak-hak yang dimiliki pelapor, dan ini menjadi tugas pemerintah.

PPTPPA/P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak) hadir sebagai salah satu lembaga yang dibentuk oleh pemerintah yang “concern” dalam mengatasi masalah sosial kemasyarakatan yang dihadapi oleh perempuan dan anak, baik dalam upaya pencegahan, pelayanan dan pendampingan pada korban kekerasan dan kejahatan. P2TP2A memberikan pelayanan berupa konsultasi hukum, pendampingan bagi korban, medis melalui rujukan, konsultasi psikologi, rumah aman melalui rujukan, home visit dan penyuluhan. Secara garis besar, prosedur pengaduan di P2TP2A adalah dengan melakukan pengaduan/pelaporan yang dilakukan oleh korban atau orang tua korban atau perwakilan yang ditunjuk oleh korban baik pelaporan secara langsung (datang ke kantor P2TP2A), pelaporan tidak langsung melalui telepon atau surat, pengaduan melalui rujukan, atau penjangkauan korban/outreach jika korban tidak dapat langsung datang. Setelah ada pelaporan maka akan diambil tindakan-tindakan yang diperlukan berdasarkan kasus yang dihadapi, baik itu penanganan advokasi, psikologi dan rehabilitasi, pemulihan fisik dan pendampingan-pendampingan lain yang diperlukan. Jadi jika anda menemukan adanya "gejala-gejala" yang mengindikasikan adanya tindakan kekerasan dan kejahatan terhadap anak dan perempuan di lingkungan sekitar anda, tak.perlu ragu untuk melaporkan pada P2TP2A di wilayah terdekat masing-masing, agar segera diambil tindakan, dan kerahasiaan pelapor dijaga.

Bagaimanapun, pada akhirnya sinergi dari seluruh pihak sangat diperlukan dalam pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, baik itu dari seluruh lapisan masyarakat, pemerintah dan media serta pihak-pihak lainnya. Keberlanjutan bangsa ini sangat tergantung pada kualitas generasi penerusnya, yang lahir dan tumbuh di tengah lingkungan yang kondusif dan penuh kasih sayang.()

 

*( Sekretaris Harian  P2TP2A Kota Banjarmasin, Dosen & Praktisi Ilmu Komunikasi, Wakil Ketua ISKI wilayah Kalimantan Selatan )


BACA JUGA

Kamis, 30 Januari 2020 11:43

HPN 2020 di Kalsel, Jokowi Bakal Tanam Pohon di Forest City

Puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini, pada 6…

Kamis, 30 Januari 2020 11:15

Gotong Royong, Warga Tapin Pasang Lampu Hias di Jalur Menuju Haul

RANTAU - Inisiatif warga Jalan Cangkring Kelurahan Rantau Kanan Kecamatan…

Rabu, 29 Januari 2020 12:19

Reguler di Tahun ini, Taman Budaya akan Gelar Musik Panting di Kiram

BANJARMASIN - Unit Pelayanan Teknis Dinas Taman Budaya (UPTD Tambud)…

Rabu, 29 Januari 2020 11:59

Bupati Banjar Berencana Pamerkan Barang Peninggalan Nabi, Saifullah Ragukan Keaslian Artefak

MARTAPURA - Bupati Banjar, Khalilurrahman berencana memamerkan barang-barang peninggalan Nabi…

Rabu, 29 Januari 2020 09:27
Dafam Q Hotel

Ratusan Anak Peringati HGN di Dafam

BANJARBARU - Hari Gizi Nasional (HGN) ke-60 diperingati setiap 25…

Selasa, 28 Januari 2020 15:54

Siapkan Mahasiswa Magang Tiga Semester, ULM Dukung Program Menteri Nadiem Makarim

BANJARMASIN - Rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim memperpanjang…

Selasa, 28 Januari 2020 10:44

Ingin Punya Anak Tapi Tak Ada Biaya, Pakar Bayi Tabung ini Beri Solusi Paling Mudah

Hadirnya seorang anak di tengah keluarga menjadi anugerah tak ternilai.…

Selasa, 28 Januari 2020 09:57

Datangi SMK, Agar Pelajar Tak Terjerumus Narkoba

BANJARMASIN - Tim Dokkes Polda Kalsel menyambangi SMKN 4 Banjarmasin…

Selasa, 28 Januari 2020 09:56

Semakin Sukses dan Diberkahi

BANJARMASIN- Kemarin menjadi hari yang spesial bagi seluruh karyawan Radar…

Selasa, 28 Januari 2020 09:53

Tingkatkan Kemampuan, 35 Penyidik Polresta Banjarmasin Dilatih

BANJARMASIN - Demi meningkatkan kemampuan SDM Polresta Banjarmasin, digelar pelatihan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers