MANAGED BY:
SENIN
06 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Rabu, 14 Desember 2016 13:11
Opini
Paradoks Peran Ibu

Oleh Khairunnisa, M.Pd*

Ilustrasi

PROKAL.CO, Mendengar kata “Ibu” tentulah yang tergambar dalam pikiran kita adalah sosok perempuan yang penuh kasih sayang dan mulia karena telah melahirkan kita ke dunia. Ibu pulalah yang berperan membesarkan dan mengajari kita banyak hal sehingga bisa menjadi seseorang yang hebat, tentunya dengan peran ayah juga yang harmonis bersama. Peran ibu seperti disebutkan tentu tidak ada yang menyangkal. Hanya saja kondisi saat ini terkadang bicara lain. Peran ibu yang mulia sebagai pencetak generasi berkualitas semakin sulit dijalankan. Ibu hampir tidak banyak bedanya seperti “induk” saja, sekedar melahirkan tanpa tanggung jawab lainnya. Bahkan terkadang si Ibu malah menjadi salah satu “ancaman” terdekat bagi kelangsunga tumbuh kembang anak. Tentu kondisi ini menjadi paradoks bukan...?

Mungkin kita banyak mendengar beberapa kasus tentang kekerasan pada anak. Tidak sedikit pelaku kekerasan adalah keluarga terdekat termasuk ibu sendiri. Seperti kasus baru saja terjadi di Palembang di bulan November kemarin, seorang Ibu yang kesal anaknya menangis karena terbangun dari tidur malam ketika mendengar orang tuanya bertengkar masalah kesulitan ekonomi. Si anak yang tidak bisa didiamkan tangisannya membuat suasana kedua orang tuanya semakin kacau dan emosi, akhirnya menjadi pelampiasan kekesalan si Ibu. Bocah yang baru berusia 4 tahun tersebut ditendang di perut hingga tersungkur. Pukulan tersebut akhirnya membuatnya diam dari tangisan dan mau kembali tidur. Sayangnya itu adalah tidur terakhirnya, ketika pagi dibangunkan si bocah diam kaku tidak bergerak lagi. Berdasarkan fakta tersebut, tentu sangat mengherankan kondisi itu bisa terjadi. Dan masih banyak lagi cerita-cerita memilukan yang ada di negeri ini yang menghancurkan kehidupan generasi. Ibu yang harusnya menjadi pelindung terdekat anak, malah bisa menjadi ancaman potensial pelaku kekerasan. Tentu ini bukan fitrahnya seorang ibu. namun tidak bisa pula langsung menyalahkan si Ibu pelaku kekerasan. Tentu kita perlu bijak mengurai benang kusut penyebab maraknya kekerasan Ibu kepada anak.

Kita sadari semua bahwa peran Ibu adalah peran yang hanya ada dalam keluarga. Pada keluarga selain Ibu ada Bapak juga anak. Ketiga peran ini saling menunjang dan membutuhkan. Kuat dan serasinya hubungan ketiganya akan berkorelasi positif terhadap jalannya kehidupan keluarga tersebut. Hak dan tanggungjawab pun akan bisa terlaksana secara optimal. Di sinilah visi dan misi yang ditopang oleh agama (Islam) yang kuat akan sangat mempengaruhi. Keluarga akan saling mengasihi dan mengingatkan dalam kebaikan.

Faktor pendidikan, pemahaman agama menjadi sebuah kebutuhan psikis yang menopang keluarga. Selain itu tidak kalah penting juga faktor fisik seperti ekonomi dan sosial yang akan membentuk ketahanan keluarga. Ekonomi misalnya sering bahkan selalu menjadi “tersangka kuat” penyebab kekacauan keluarga. Sulitnya mencari penghidupan keluarga di masa sekarang telah membuat banyak orang stress. Bapak yang berkewajiban mencari nafkah seringkali tidak mencukupi. Selanjutnya Ibu pun turun tangan. Seringkali pekerjaan si Ibu membuatnya menghabiskan banyak waktu di luar untuk bekerja dibandingkan mengurusi keluarga. Ibu sebagai perempuan yang seringkali diistilahkan sebagai “tulang rusuk” harus banting setir menjadi “tulang punggung” karena pekerjaannya yang sudah seperti laki-laki saja. Itu pun sering tidak mencukupi sehingga seringkali meningkatkan tensi suami istri menjadi bertengkar karena memang kebutuhan rumah tangga yang banyak, disamping susahnya bersabar karena minimnya nilai-nilai agama (Islam).

Sayangnya seringkali solusi yang diberikan negara untuk meningkatkan ekonomi keluarga sifatnya parsial. Berbagai program digelontorkan pemerintah dengan melibatkan kaum perempuan, tentu masih ingat dengan perkataan Managing Director International Monetary Fund (IMF) Christine Lagarde menyatakan, bahwa peningkatan akses perempuan ke layanan keuangan memiliki manfaat ekonomi dan sosial yang luar biasa. Hal ini dapat memacu pertumbuhan ekonomi yang sedang mengalami pelemahan. Dana Moneter Internasional atau IMF menyebutkan pentingnya peranan wanita dalam menjaga stabilitas perekonomian. Hal tersebut juga dianggap dapat merangsang pertumbuhan ekonomi. Menurut IMF lebih banyak perempuan memiliki peran kepemimpinan di bidang keuangan dan dapat mendukung stabilitas keuangan. (okezone.com, 02/09/2015).

Satu sisi terkesan solusi-solusi pemberdayaan tersebut mengangkat kesejahteraan perempuan dalam hal ini termasuk Ibu dalam keluarga. Namun efek besar yang diberikan adalah perempuan termasuk Ibu berlomba bekerja di luar rumah. Sebenarnya tidak sedikit yang bekerja karena ingin aktualisasi dan eksistensi diri karena memang standar gaya hidup dengan pemenuhan materi berlimpah, dan lebih banyak lagi karena tuntutan ekonomi keluarga yang tidak sejahtera. Kaum ibu digiring untuk keluar dari tugas pokoknya sebagai ummun wa rabbatun al-bayt (ibu dan pengatur rumah tangga). Sementara kondisi pekerjaan di luar seringkali menghabiskan banyak waktu dan tenaga.

Ketika pulang ke rumah hanya sisa-sisa tenaga yang tidak cukup lagi banyak memperhatikan rumah tangga dan anak-anak, apalagi jika anak rewel dan bertingkah menjengkelkan. Akhirnya emosi dan amarah yang bicara. Kekerasan antar suami istri sering terjadi, begitu pula kepada anak. Akibat lain yang juga sering muncul adalah meningkatnya angka perceraian, KDRT, perselingkuhan, eksploitasi anak, dan lainnya. Inilah bagian kecil paradoks peran ibu jaman kapitalis sekarang. Masih banyak sisi lain potret Ibu yang paradoks dengan fungsi fitrahnya. Peran dengan banyak tuntutan yang kadang saling bertentangan.

Belum lagi dari sisi keteladanan. Saat ini dengan banyaknya gempuran media yang menyajikan berbagai informasi tanpa batas telah membuat “guru-guru elektronik” bagi anak. Bagi Ibu yang berharap anak bisa tumbuh dan berkembang dalam suasana agama dan pendidikan yang kuat, tentu harapan itu menjadi sangat sulit. Padahal idealnya ibu adalah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya, sembari juga sosok kepemimpinan Bapak. bagi keluarga yang tidak bisa bersaing melawan pengaruh negatif media, ditambah dengan minimnya berinteraksi dengan anak, maka tentu sosok teladan dan rujukan anak bukan orang tuanya termasuk Ibu. Akhirnya banyak muncul kasus tawuran, kekerasan dan perkelahian antar remaja, dan sederet gaya generasi alay jaman sekarang.

Fenomena kekerasan pada anak dan sederet permasalahan keluarga dan sosial yang ada akan terus terjadi selama penyelesaian masalah ini dibangun dengan cara-cara kapitalis. Artinya solusi yang dibangun bersifat parsial, tambal sulam, dan tidak menyentuh akar permasalahannya. Dalam permasalahan ekonomi keluarga saja, sering rakyat dibiarkan bertarung sendiri memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kenyataannya selama ini solusi pemberdayaan ekonomi perempuan tidak berkorelasi banyak terhadap kesejahteraan keluarga. Yang ada justru para perempuan dan Ibu malah meninggalkan peran utamanya yang mulia sebagai pencetak generasi berkualitas. Memunculkan para Ibu yang tertekan dengan tekanan ekonomi keluarga, dan berujung pada jiwa-jiwa rapuh. Itulah beban berat dalam kehidupan kapitalistik sekarang. Disini lah perlu peran penting negara sebagai institusi terbesar dan terkuat di masyarakat untuk bisa mensejahterakan dan menguatkan ketahanan keluarga.

 Negara dalam hal ini pemerintah merupakan pilar utama dalam pembuat kebijakan. Negara sepatutnya tidak sekedar sebagai regulator yang minim campur tangannya menolong hajat hidup rakyatnya sendiri. Negara harus menyadari bahwa peran sukses seorang ibu adalah ketika anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk mata (qurrata a’yun) dan mampu menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa (lil muttaqiina imama).

Negara yang kuat akan sangat dipengaruhi oleh kualitas keluarga di masyarakat. Dan kualitas/ketahanan keluarga yang kuat sangat dipengaruhi oleh Ibu-ibu yang hebat yaitu Ibu pencetak generasi berkualitas. Hal tersebut hanya dapat teraih ketika hidup dalam sistem Islam yang memberikan jaminan pemenuhan hajat hidup masyarakat sehingga ayah dan ibu dapat menjalankan perannya masing-masing dengan optimal. Karena Islam memiliki konsep komprehensif dalam mengatur urusan keluarga, masyarakat, bahkan negara. Negara juga berperan dalam menjalankan kurikulum pendidikan yang Islami dan mengantur kehidupan sosial serta media. Karena Ibu tidak akan bisa menjalankan fungsi mulianya jika banyak kebijakan negara yang kontra produktif dengan perannya.

Karena itu, mari songsong hari Ibu dengan komitmen untuk mengembalikan peran Ibu sesungguhnya sesuai fitrahnya sebagai pencetak generasi cemerlang harapan ummat.

Wallahu ‘alam bi asshowab

 

*Aktivis Muslimah Hizbut-Tahrir Indonesia (MHTI) Kalsel 


BACA JUGA

Kamis, 30 Januari 2020 11:43

HPN 2020 di Kalsel, Jokowi Bakal Tanam Pohon di Forest City

Puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini, pada 6…

Kamis, 30 Januari 2020 11:15

Gotong Royong, Warga Tapin Pasang Lampu Hias di Jalur Menuju Haul

RANTAU - Inisiatif warga Jalan Cangkring Kelurahan Rantau Kanan Kecamatan…

Rabu, 29 Januari 2020 12:19

Reguler di Tahun ini, Taman Budaya akan Gelar Musik Panting di Kiram

BANJARMASIN - Unit Pelayanan Teknis Dinas Taman Budaya (UPTD Tambud)…

Rabu, 29 Januari 2020 11:59

Bupati Banjar Berencana Pamerkan Barang Peninggalan Nabi, Saifullah Ragukan Keaslian Artefak

MARTAPURA - Bupati Banjar, Khalilurrahman berencana memamerkan barang-barang peninggalan Nabi…

Rabu, 29 Januari 2020 09:27
Dafam Q Hotel

Ratusan Anak Peringati HGN di Dafam

BANJARBARU - Hari Gizi Nasional (HGN) ke-60 diperingati setiap 25…

Selasa, 28 Januari 2020 15:54

Siapkan Mahasiswa Magang Tiga Semester, ULM Dukung Program Menteri Nadiem Makarim

BANJARMASIN - Rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim memperpanjang…

Selasa, 28 Januari 2020 10:44

Ingin Punya Anak Tapi Tak Ada Biaya, Pakar Bayi Tabung ini Beri Solusi Paling Mudah

Hadirnya seorang anak di tengah keluarga menjadi anugerah tak ternilai.…

Selasa, 28 Januari 2020 09:57

Datangi SMK, Agar Pelajar Tak Terjerumus Narkoba

BANJARMASIN - Tim Dokkes Polda Kalsel menyambangi SMKN 4 Banjarmasin…

Selasa, 28 Januari 2020 09:56

Semakin Sukses dan Diberkahi

BANJARMASIN- Kemarin menjadi hari yang spesial bagi seluruh karyawan Radar…

Selasa, 28 Januari 2020 09:53

Tingkatkan Kemampuan, 35 Penyidik Polresta Banjarmasin Dilatih

BANJARMASIN - Demi meningkatkan kemampuan SDM Polresta Banjarmasin, digelar pelatihan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers