MANAGED BY:
SELASA
31 MARET
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Kamis, 15 Desember 2016 15:08
Opini
Aplikasi Teknologi Inseminasi Buatan (IB)

Oleh Dr. Ir. Muhammad Rizal, M.Si

Dr. Ir. Muhammad Rizal, M.Si

PROKAL.CO, Kerbau rawa (Bubalus bubalis carabanensis) yang ada di Kalimantan Selatan jika dilihat tampilan luarnya (eksterior) pada dasarnya adalah merupakan kerbau lumpur seperti kerbau yang umum ada di beberapa daerah di Indonesia, yaitu: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Banten, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Pulau Moa (Maluku), dan lain-lain. 

Penamaan kerbau rawa untuk kerbau di Kalimantan Selatan mungkin merujuk pada habitat tempat hidupnya yang berupa rawa.  Secara umum, ada beberapa lokasi pengembangan kerbau rawa di Kalimantan Selatan, yakni: Danau Panggang (Kabupaten Hulu Sungai Utara), Sungai Buluh (Kabupaten Hulu Sungai Tengah), Daha Barat (Kabupaten Hulu Sungai Selatan), dan Desa Benua Raya (Kabupaten Tanah Laut). 

Peternakan kerbau rawa di Kalimantan Selatan merupakan suatu bentuk usaha yang telah dilakukan bertahun-tahun secara turun temurun dengan memanfaatkan areal-areal rawa sebagai lahan penggembalaan dan kalang sebagai “kandang” tempat istirahat dari sore hingga pagi setelah seharian merumput di rawa. 

Hal ini yang menyebabkan kerbau rawa Kalimantan Selatan juga dikenal dengan nama kerbau kalang.  Kerbau rawa merupakan ternak penghasil daging yang cukup potensial sebagai pelengkap daging sapi dalam upaya pemenuhan kebutuhan protein hewani untuk masyarakat.  Bahkan di beberapa daerah tertentu seperti Toraja (Sulawesi Selatan), ternak kerbau memiliki posisi dan nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan ternak sapi.  Produk daging dan susu kerbau juga memiliki nilai gizi yang tidak kalah dengan produk ternak sapi.  Berdasarkan hasil analisis dilaporkan bahwa kandungan protein daging kerbau relatif sama dengan daging sapi (18,7 vs 18,8%), tetapi kandungan lemak daging kerbau jauh lebih rendah dibandingkan dengan daging sapi (0,5 vs 14%).

Berdasarkan laporan tahunan Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan terdapat kecenderungan penurunan jumlah populasi kerbau di Kalimantan Selatan.  Penurunan jumlah populasi ini diduga disebabkan oleh tidak seimbangnya antara jumlah kerbau yang keluar (dipotong atau dijual keluar daerah Kalimantan Selatan) dengan jumlah kelahiran. 

Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab rendahnya tingkat kelahiran dan juga mungkin penurunan kualitas genetik kerbau di Kalimantan Selatan adalah tingginya kejadian perkawinan sedarah (inbreeding).  Inbreeding terjadi karena masih rendahnya penerapan tatalaksana peternakan yang baik dan benar, di mana peternakan kerbau di Kalimantan Selatan masih dikelola dengan pola pemeliharaan ekstensif.  Salah satu yang belum diterapkan pada sistem peternakan kerbau rawa di Kalimantan Selatan adalah pencatatan (recording), terutama pencatatan dalam bidang kegiatan reproduksi.  Inbreeding banyak terjadi karena tidak dilakukan penggantian pejantan di dalam suatu kelompok ternak secara teratur dalam periode waktu tertentu, sehingga seekor kerbau jantan berpeluang mengawini ibunya atau saudara betinanya.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan memperbaiki kualitas genetik serta sekaligus mencegah terjadinya inbreeding pada ternak kerbau rawa di Kalimantan Selatan adalah dengan aplikasi teknologi inseminasi buatan (IB), dan secara perlahan budaya pencatatan dalam skala kecil juga sudah harus mulai diterapkan.  Melalui teknologi IB, kapasitas reproduksi seekor pejantan unggul dapat dioptimalkan.  Sebagai gambaran, dengan aplikasi teknologi IB (yang di dalamnya terintegrasi dengan teknologi pengolahan semen), maka satu kali ejakulasi dapat digunakan untuk melayani puluhan hingga ratusan ekor betina, bergantung pada kuantitas dan kualitas semen; jika dibandingkan dengan kawin alam satu ejakulasi hanya untuk melayani satu ekor betina.

Upaya aplikasi teknologi IB pada ternak kerbau rawa di Kalimantan Selatan sudah dilakukan dalam skala kecil di beberapa daerah.  Aplikasi IB pada kerbau rawa di beberapa daerah di Kalimantan Selatan umumnya dilakukan oleh inseminator di bawah koordinasi Dinas Peternakan setempat dengan menggunakan semen beku produksi Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD) Provinsi Kalimantan Selatan yang berlokasi di Loktabat, Banjarbaru.  Salah satu upaya aplikasi teknologi IB dalam skala penelitian pada ternak kerbau rawa di Kalimantan Selatan telah dilakukan oleh Tim Peneliti dari Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat (ULM) pada peternakan kerbau rawa yang dikelola oleh Kelompok Tani Suka Maju 1 di Desa Benua Raya, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut. 

---------- SPLIT TEXT ----------

Tim peneliti yang terdiri atas Dr. Ir. Muhammad Rizal, M.Si dan drh. Muhammad Riyadhi, M.Si bekerjasama dengan tim dari Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Bati-Bati yang terdiri atas Sunarko, S.Pt, Laras Indro Prayitno, SP, dan Cacang Rustandi, SP.  Semen yang digunakan dalam aplikasi IB tersebut adalah semen yang ditampung dari pejantan kerbau rawa milik BIBD Provinsi Kalimantan Selatan.  Semen yang baru ditampung kemudian dievaluasi kualitasnya, dan jika memenuhi syarat kualitas, semen tersebut diproses lanjut berupa pengenceran dan pembekuan (kriopreservasi) di Laboratorium Reproduksi dan Pemuliaan Ternak, Jurusan Peternakan, ULM. 

Tim Peneliti ULM tersebut mencoba memanfaatkan bahan alami berupa nira aren sebagai bahan alternatif pengencer semen untuk menggantikan bahan-bahan kimiawi sintetik yang selama ini telah lazim digunakan sebagai bahan pengencer dalam upaya kriopreservasi semen berbagai jenis ternak.  Nira aren diperoleh dari petani/penyadap nira aren di Desa Banyu Irang, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut.  Hasil penelitian Tim Peneliti ULM tersebut diperoleh bahwa nira aren layak dimanfaatkan sebagai bahan pengencer semen kerbau rawa, baik dalam proses pembuatan semen cair dingin (chilled-semen) maupun semen beku (frozen semen), dan memenuhi syarat kualitas untuk digunakan dalam program IB berdasarkan pada ketentuan yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) berupa Standar Nasional Indonesia (SNI 4869.2:2008), yang mempersyaratkan bahwa semen beku kerbau yang layak digunakan dalam program IB harus memiliki persentase spermatozoa motil setelah thawing minimum 30%.  Hasil penelitian Tim Peneliti ULM diperoleh persentase spermatozoa motil semen beku kerbau rawa yang diencerkan dengan nira aren adalah rata-rata 30,83%. 

Tim Peneliti ULM berhasil mendapatkan komposisi pengencer semen terbaik berupa kombinasi antara 73% nira aren + 20% kuning telur ayam ras + 7% gliserol + antibiotik (1.000 µg penisilin dan 1.000 IU streptomisin setiap mililiter pengencer).  Sementara untuk semen cair dingin diperoleh kombinasi terbaik yang terdiri atas campuran 80% nira aren + 20% kuning telur ayam ras + antibiotik (1.000 µg penisilin dan 1.000 IU streptomisin setiap mililiter pengencer), serta dapat disimpan pada suhu 5oC (di dalam refrigerator lemari es) selama 3 hari dan masih memenuhi syarat kualitas digunakan dalam program IB.

Upaya aplikasi teknologi IB pada kerbau rawa menggunakan semen yang diencerkan dengan nira aren di Desa Benua Raya tersebut telah dilakukan dalam dua tahap.  Tahap pertama yang dilakukan pada bulan September 2015 adalah aplikasi IB menggunakan semen cair dingin, sedangkan tahap kedua pada tahun 2016 adalah dengan menggunakan semen beku. 

Persentase kebuntingan dan kelahiran yang diperoleh pada aplikasi IB menggunakan semen cair dingin adalah 71,43%, dan anak-anak kerbau rawa hasil IB telah lahir pada bulan Agustus 2016.  Aplikasi IB menggunakan semen beku dilakukan pada tanggal 22 September 2016, dan berdasarkan hasil pengamatan dua siklus estrus setelah IB (tanggal 13 Oktober dan 3 November 2016) diperoleh angka kebuntingan sebesar 80%.

Hasil penelitian Tim Peneliti ULM ini menjadi kabar gembira yang menjanjikan karena dengan memanfaatkan nira aren sebagai bahan pengencer semen akan didapatkan beberapa keuntungan, seperti nira aren relatif mudah diperoleh dan harga yang terjangkau.  Dengan demikian, akan berimplikasi pada hematnya biaya proses pengolahan semen baik berupa semen cair dingin maupun semen beku, jika dibandingkan dengan menggunakan bahan-bahan pengencer berupa bahan kimiawi sintetik yang harganya relatif mahal dan sulit diperoleh.  Walaupun demikian, Tim Peneliti ULM tersebut mengakui bahwa pemanfaatan nira aren sebagai bahan pengencer dalam proses pengolahan semen kerbau rawa terutama untuk proses kriopreservasi masih harus diuji kestabilan hasilnya melalui serangkaian beberapa kajian dan aplikasi di lapang. 

---------- SPLIT TEXT ----------

Kendala yang dihadapi Tim Peneliti ULM dalam aplikasi IB pada kerbau rawa di Desa Benua Raya adalah terlalu sedikitnya jumlah betina yang dapat dijadikan sebagai akseptor karena umumnya kerbau-kerbau tersebut liar sehingga sulit dikendalikan.  Faktor ternak yang liar ini mungkin menjadi kendala yang sama dihadapi di beberapa daerah sentra peternakan kerbau rawa di Kalimantan Selatan. 

Hal ini yang menjadi salah satu faktor pembatas utama tidak populernya aplikasi teknologi IB pada kerbau rawa di Kalimantan Selatan seperti yang sudah dilakukan pada ternak sapi.  Menurut penulis ada beberapa hal yang perlu dilakukan dan dibenahi dalam tatalaksana pemeliharaan ternak kerbau di Kalimantan Selatan sebagai upaya pengembangan ke depan, yang meliputi: 1) Bentuk kelompok petani-peternak yang benar-benar fungsional, 2) Benahi sistem manajemen usaha ternak secara komprehensif, 3) Tingkatkan pengetahuan dan keterampilan petani-peternak dalam hal reproduksi terutama tentang deteksi estrus, 4) Intensifkan penerapan pencatatan (recording) pada peternakan rakyat melalui manajemen kelompok, 5) Tingkatkan pengetahuan dan keterampilan inseminator, tenaga pemeriksa kebuntingan (PKb), dan asisten teknisi reproduksi (ATR) melalui pelatihan-pelatihan yang terjadwal, 6) Dirikan pos IB pada lokasi-lokasi yang strategis, 7) Optimalisasi kegiatan sebelum dan setelah pelaksanaan IB, 8) Program pemerintah yang terkait dengan IB yang terkesan sebagai suatu kegiatan insidentil (proyek) harus tetap dipertahankan sehingga berkesinambungan dan menjadi kegiatan rutin, 9) Program IB menggunakan semen cair sebagai kegiatan insidentil, 10) Salah satu tujuan utama aplikasi IB adalah menghasilkan bibit ternak yang unggul, sehingga peran balai pembibitan ternak harus dioptimalkan, 11) Sediakan payung hukum yang memadai, dan 12) Lakukan penggantian(replacement) pejantan secara periodik pada peternakan rakyat. 

Salah satu yang mendesak untuk segera diwujudkan terkait dengan upaya pengembangan ternak kerbau rawa di Kalimantan Selatan adalah penyediaan payung hukum yang terkait dengan perlindungan terhadap lahan penggembalaan ternak.  Areal-areal rawa yang selama ini sudah dimanfaatkan secara turun temurun oleh peternak sebagai lahan penggembalaan ternak kerbau harus dilindungi dalam bentuk peraturan khusus seperti PERDA sehingga ada kejelasan dan perasaan aman bagi peternak dalam mengembangkan usaha ternaknya.  Kalaupun harus terjadi alih fungsi lahan dari areal penggembalaan ternak ke peruntukan yang lain, maka harus ada solusi penggantian lahan di lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat pemukiman peternak. 

Sebagai catatan, lahan penggembalaan merupakan faktor yang krusial dalam usaha peternakan kerbau.  Sebenarnya areal yang selama ini dimanfaatkan oleh peternak sebagai lahan penggembalaan ternak kerbau adalah merupakan daerah tangkapan air yang tidak dikelola secara khusus sebagai lahan produktif, sehingga jika areal tersebut dialihfungsikan ke peruntukan yang lain seperti perkebunan, perumahan, pabrik, dan lain-lain akan memberikan kontribusi pada terjadinya banjir pada saat musim hujan, kebakaran lahan pada musim kemarau, kerusakan ekosistem, dan turunnya permukaan tanah.  Ringkasnya, sektor peternakan juga harus memiliki bentang lahan yang jelas dan tertuang di dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) pada setiap daerah otonom.

Sedangkan program penggantain pejantan dilakukan dengan cara merotasi pejantan-pejantan terbaik dari satu kelompok peternak ke kelompok peternak yang lain dalam periode waktu tertentu.  Penggantian pejantan dapat juga dilakukan dengan cara memasukkan pejantan-pejantan kerbau lumpur yang berkualitas tinggi dari luar Provinsi Kalimantan Selatan.  Program aplikasi IB pada peternakan kerbau rawa di Kalimantan Selatan dilakukan sebagai pelengkap sistem perkawinan intensifikasi kawin alam (INKA), hingga pada suatu saat nanti teknologi IB menjadi pilihan utama seiring dengan adanya upaya perbaikan manajemen peternakan secara komprehensif.

Sisi lain yang juga perlu mendapatkan perhatian dan sentuhan khusus dari pihak berwenang terkait dengan peternakan kerbau rawa di Kalimantan Selatan ini adalah potensi wisata yang dimilikinya.  Dengan melengkapi berbagai sarana dan prasarana yang diperlukan disertai upaya promosi yang memadai, peternakan kerbau rawa di Kalimantan Selatan dapat dikembangkan menjadi salah satu obyek wisata berupa agrowisata.  Melalui sentuhan dari berbagai lini, diharapkan bahwa usaha peternakan kerbau rawa sebagai salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Kalimantan Selatan tetap dapat dipertahankan keberadaannya.

*Penulis adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Reproduksi Ternak pada Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, ULM. Tinggal di Banjarbaru.           

 

 

Halaman:

BACA JUGA

Kamis, 30 Januari 2020 11:43

HPN 2020 di Kalsel, Jokowi Bakal Tanam Pohon di Forest City

Puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini, pada 6…

Kamis, 30 Januari 2020 11:15

Gotong Royong, Warga Tapin Pasang Lampu Hias di Jalur Menuju Haul

RANTAU - Inisiatif warga Jalan Cangkring Kelurahan Rantau Kanan Kecamatan…

Rabu, 29 Januari 2020 12:19

Reguler di Tahun ini, Taman Budaya akan Gelar Musik Panting di Kiram

BANJARMASIN - Unit Pelayanan Teknis Dinas Taman Budaya (UPTD Tambud)…

Rabu, 29 Januari 2020 11:59

Bupati Banjar Berencana Pamerkan Barang Peninggalan Nabi, Saifullah Ragukan Keaslian Artefak

MARTAPURA - Bupati Banjar, Khalilurrahman berencana memamerkan barang-barang peninggalan Nabi…

Rabu, 29 Januari 2020 09:27
Dafam Q Hotel

Ratusan Anak Peringati HGN di Dafam

BANJARBARU - Hari Gizi Nasional (HGN) ke-60 diperingati setiap 25…

Selasa, 28 Januari 2020 15:54

Siapkan Mahasiswa Magang Tiga Semester, ULM Dukung Program Menteri Nadiem Makarim

BANJARMASIN - Rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim memperpanjang…

Selasa, 28 Januari 2020 10:44

Ingin Punya Anak Tapi Tak Ada Biaya, Pakar Bayi Tabung ini Beri Solusi Paling Mudah

Hadirnya seorang anak di tengah keluarga menjadi anugerah tak ternilai.…

Selasa, 28 Januari 2020 09:57

Datangi SMK, Agar Pelajar Tak Terjerumus Narkoba

BANJARMASIN - Tim Dokkes Polda Kalsel menyambangi SMKN 4 Banjarmasin…

Selasa, 28 Januari 2020 09:56

Semakin Sukses dan Diberkahi

BANJARMASIN- Kemarin menjadi hari yang spesial bagi seluruh karyawan Radar…

Selasa, 28 Januari 2020 09:53

Tingkatkan Kemampuan, 35 Penyidik Polresta Banjarmasin Dilatih

BANJARMASIN - Demi meningkatkan kemampuan SDM Polresta Banjarmasin, digelar pelatihan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers