MANAGED BY:
MINGGU
19 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 23 Desember 2016 16:09
Takut Ngayau, Misionaris Dikawal Pasukan Sultan

Sejarah Gereja Protestan Tertua di Banjarmasin (Bagian Satu)

MISIONARIS PERTAMA - Pendeta Besel Jerias bersama potret rombongan pertama misionaris dari Jerman.

Masyarakat Banjarmasin tempo doeloe punya panggilan sayang untuk Gereja Dayak (kini Gereja Kalimantan Evangelis), yakni Gereja Dangsanak.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

TAHUN 1835, misionaris asal Jerman tiba di Banjarmasin. Foto hitam putih berukuran besar rombongan pertama itu terpampang di ruang kerja Ketua Resort GKE Banjarmasin Pendeta Besel Jerias. "Selain membawa misi Injil, mereka juga membawa misi pendidikan dan kesehatan," kata Besel, 54 tahun.

Kepemimpinan Besel di gereja di Jalan DI Panjaitan itu terbagi dua periode. Dari tahun 1993 sampai 1997, berlanjut dari tahun 2012 sampai sekarang. Selasa (20/12) pagi itu Besel mengenakan kemeja Sasirangan warna merah darah. Ia asli Suku Daya Kapuas.

Pendaratan awal misionaris di Banjarmasin tidaklah aneh. Mengingat sebelum pemecahan provinsi, ibukota Kalimantan atau Borneo adalah Banjarmasin. Keraton pertama Kesultanan Banjar juga berada di Kampung Kuin.

Diperkirakan usia GKE sudah menginjak 1,5 abad lebih. Inilah gereja Kristen Protestan tertua di tanah Banjar. "Bangunan awalnya kecil dari kayu ulin," sebutnya. Sebelum berubah nama menjadi GKE, namanya adalah Gereja Dayak. Perubahan nama diputuskan dalam musyawarah tahun 1950.

Alasannya, khawatir umat Kristiani dari suku lain tak kerasan. Selepas Indonesia merdeka, pengurus gereja yakin suku dari berbagai nusantara bakal berlomba merantau kemari. "Kalimantan bak perempuan cantik yang misterius. Wajar semua suku terpikat menyuntingnya," ujarnya tersenyum.

Sekarang, gereja berdaya tampung 890 orang itu membina tiga ribu orang (khusus untuk Banjarmasin). Selama memimpin GKE, ia mengaku makin memahami tugas seorang pendeta. Pendeta ibarat talenan, tempat menetak daging ayam atau mengeluarkan jeroan ikan. "Yang baik dan buruk ditimpakan ke pendeta semua," ujarnya tertawa.

Besel lantas mengajak penulis berkeliling gereja. Dari aula utama yang dihiasi lukisan Perjamuan Terakhir karya Leonardo da Vinci. Sampai kamar khusus tempat pendeta bersiap menghadapi jemaat. Kamar itu gelap, cahaya merambat pelan dari jendela berbentuk salip.

Sementara itu, Senin (19/12) pagi penulis mengunjungi Prof Melkiannus Paul Lambut di rumahnya di Jalan Cendrawasih. Guru Besar FKIP Universitas Lambung Mangkurat itu juga aktif sebagai pembina Gereja Eben Ezer di Jalan Sudirman, pusat jaringan GKE di lima provinsi Kalimantan.

Dosen sastra berumur 85 tahun itu punya banyak kisah menarik tentang sejarah pendirian GKE. "Gereja dibangun di atas tanah hadiah Kesultanan Banjar pada seorang kapten berdarah Ambon, namanya Hendrik Hehanusa," ujarnya.

Bantuan pada gereja bukan cuma lahan. Tapi juga kawalan pasukan untuk misionaris saat masuk pedalaman. Hutan rimba Kalimantan terkenal seram. Sebagian suku masih memegang tradisi Ngayau, penggal kepala ala Dayak. "Berkat pasukan kesultanan, kepala para misionaris tetap utuh terpasang," imbuhnya.

Pertanyaannya, apa dasar kedekatan kesultanan dengan misionaris? Jawabannya kental aroma politis. Pertama, kesultanan berperang dengan Belanda, tapi tak anti Jerman. Kedua, perjanjian tidak mengkristenkan muslim. Tawaran masuk Kristen hanya berlaku untuk penganut Animisme. "Kami tidak akan mengkristenkan saudara Banjar yang muslim," tegas Lambut.

Bukti kerukunan tampak jelas dari panggilan sayang masyarakat Banjarmasin untuk Gereja Dayak, yakni Gereja Dangsanak (artinya saudara). "Saat pembangunan gereja, saudara muslim juga turun tangan membantu," ujarnya.

Faktor lain mengapa Protestan bisa bergerak luwes karena pemerintah Belanda sempat menahan masuknya misionaris Katolik. Alasannya khawatir terjadi gesekan. "Uniknya Belanda, anti sekali dengan keributan berbau agama," pungkasnya. (fud/by/ran)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 19:02

Misran, Pembakal Yang Jadi Pembicara Nasional

Berawal dari postingan video tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)…

Jumat, 17 September 2021 18:45

Sebentar Lagi Wisata Kampung Kuin Kacil Dibuka

Dulu Kuin Kacil cuma daerah terpencil di pinggiran kota. Sekarang…

Jumat, 17 September 2021 13:38

Shafa Nur Anisa, Putri Cilik Kalsel 2021 dari Tapin

Shafa Nur Anisa menorehkan prestasi membanggakan untuk Kabupaten Tapin. Ia…

Selasa, 14 September 2021 15:50

Syahridin, Kepala Desa Inspiratif dari Balangan

Keberadaan Pasar Budaya Racah Mampulang dan titian bambu atas sawah…

Selasa, 14 September 2021 15:44

Cerita Balai Bini Pengambangan: Diusulkan Cagar Budaya, Pernah Ditawar Turis Korea

Rumah almarhum pembakal Haji Sanusi di Kelurahan Pengambangan RT 11…

Kamis, 09 September 2021 13:56

Rumbih, Pengayuh Becak Populer yang Menjadi Youtuber

Sudah menjadi ciri khasnya, kemana-mana selalu bersama becak. Itu lah…

Kamis, 09 September 2021 12:27

Cerita Agen Koran di Era Digital: Malah Lebih Untung Menjual yang Bekas

Di era senja media cetak, ada agen koran di Banjarmasin…

Rabu, 08 September 2021 13:31

Sedotan Purun, Kerajinan Desa Banyu Hirang Yang Mendunia

Isu lingkungan mengurangi sampah plastik membuka peluang usaha sedotan organik…

Rabu, 08 September 2021 12:22

Menengok Fasilitas Isoter di Mulawarman: Cukup Bawa Perkakas Mandi

Seorang perawat berjalan melintasi lorong gedung. Berhenti di depan sebuah…

Senin, 06 September 2021 15:59

Dari Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin: Main Mamanda, Ibnu Jadi Raja

Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin periode 2021-2026 diramaikan dengan pementasan kesenian…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers