MANAGED BY:
MINGGU
19 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 25 Desember 2016 18:47
Berbincang dengan Tokoh Gereja yang Mengagumi Ulama dan Masyarakat Banjar
Prof Melkiannus Paul Lambut

Mei 2006, Paul dipanggil ke Martapura. Disitu ia bertemu Gus Dur dan Abah Guru Sekumpul. Itulah momen paling menggetarkan selama hidupnya.

----------------------------------------------

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

----------------------------------------------

Namanya sudah cukup tenar di kalangan akademisi. Prof Melkiannus Paul Lambut. Melkiannus nama baptis, sedangkan Lambut nama marga Suku Dayak Kapuas. Ia pembina Gereja Eben Ezer di Jalan S Parman, tapi lebih dikenal sebagai Guru Besar FKIP Universitas Lambung Mangkurat.

Berumur 85 tahun, tubuh Paul masih bugar, bicaranya lancar dan ingatannya segar. Ia masih aktif mengajar filsafat dan sastra. "Generasi saya sudah habis. Saya ditinggal sendirian. Kawan-kawan pergi duluan," ujarnya, Senin (19/12) di rumahnya di Jalan Cendrawasih.

Wawancara berjalan santai di ruang tamu, dekat pohon Natal. Lahir di Kuala Kapuas Kalimantan Tengah, Paul pindah ke Banjarmasin sebelum Perang Dunia II pecah. Kuliah ke Universitas Gajah Mada Yogyakarta, lalu 'dipaksa' pulang ke Banua.

"Pak gubernur menyuruh saya pulang, katanya Unlam sedang kekurangan dosen," kisahnya. Mulai mengajar di Unlam sejak 1965, saat kampus masih bertempat di Komplek Mulawarman. Tahun 1994 ia diangkat menjadi guru besar. Gubernur Muhammad Said secara khusus membuatkan pesta untuknya.

Sebagai tokoh gereja, Paul merasa dekat dengan umat Islam. Bahkan, saat ditanya siapa tokoh Kalsel yang paling ia kenang, tak disangka Paul menyebut nama Guru Ijai alias Muhammad Zaini Abdul Ghani. Satu dekade yang lewat, Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur berziarah ke makam Syekh Muhammad Arsyad Albanjari alias Datu Kelampayan.

Selepas itu, presiden bersilaturahmi ke Sekumpul. Gus Dur membawakan hadiah untuk Guru Ijai berupa satu pak rokok bermerek Istana Presiden. Paul diundang hadir. Mengenakan topi pet, kacamata besar dan jas warna abu-abu yang kedodoran. "Badan saya mengkerut, rasanya kecil sekali. Siapalah saya sampai bisa berhadapan dengan Guru Ijai," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Di depan banyak orang, Paul diminta menceritakan sejarah kedekatan antara Kampung Arab di Pasar Lama dan Kampung Kristen di Jalan S Parman. Menurutnya, kerukunan kedua kampung ini tak ada duanya. "Dulu sering main ke Kampung Arab, mereka biasa memanggil saya U'ul," kisahnya.

Paul juga nyambi mengajar di Universitas Islam Kalimantan (Uniska). Tahun 1985, ia diminta menyelamatkan 23 mahasiswa yang terancam DO (Drop Out) lantaran skripsi yang tak kunjung rampung. Paul harus bergerak cepat karena fakultas hanya memberi waktu enam bulan. Misi penyelamatan berakhir sukses.

Tak lama, salah satu mahasiswa datang ke rumah dan menjemput istrinya, Raden Roro Franzisca Moeprspti. Franzisca diajak jalan-jalan ke pasar dan melihat-lihat kayu lapis kesukaannya. "Besoknya datang kejutan, dua truk penuh kayu lapis dan enam tukang," tukasnya menggeleng-gelengkan kepala.

Biaya rehab rumah yang dibangun tahun 1964 itu semuanya ditanggung mahasiswa. Paul memang sudah lama ingin memperbaiki rumah tuanya. "26 Desember 1985, 23 mahasiswa muslim itu kemari merayakan Natal di rumah yang kembali tampil baru," kenangnya.

Ia mewanti-wanti generasi muda Banjar. Orang Banjar tidak pernah bermasalah dengan perbedaan agama. "Orang Banjar memang fanatik soal agama, tapi mustahil membakar gereja!" tegasnya. Berkali-kali selama wawancara ia menyebut Banjarmasin yang manis. Lantas, bagaimana kota ini di matanya sekarang? Paul pun meringis. Banyak hal baik dari Banjarmasin yang hilang digerus zaman.

Ia menyebut nama-nama saudagar dan dermawan asli Banjar tempo dulu. Setelah mereka almarhum, tak ada penggantinya, orang Banjar kian terpinggirkan. "Kecil di perantauan tidak aneh. Tapi kecil di kampung kelahiran rasanya menyedihkan," tukasnya.

Mengenai Islam, ia terkagum-kagum dengan ajaran surga di bawah telapak kaki ibu. "Mengapa tak di pangkuan? Atau di bawah tangan? Malah di telapak kaki yang kotor. Padahal Islam lahir di zaman jahiliyah yang sangat merendahkan perempuan. Luar biasa," akunya.

Salah seorang mahasiswa Paul adalah Helman Ari Gellyrian, penyiar radio swasta. Selama kuliah di Uniska, Helman menyebut Paul tak pernah canggung atau berjarak meski mengajar di kampus Islam. "Ciri khasnya kemana-mana pakai topi pet. Mahasiswa rasa-rasanya tidak percaya beliau itu tokoh Kristen," ujarnya.

Pengakuan juga datang dari Kesultanan Banjar. Paul dianugerahi gelar Datu Cendekia Hikmadiraja pada tahun 2011. Atas jasa mencerahkan pikiran masyarakat, keraton dan kebudayaan Banjar. Piagam itu ia pajang di samping foto keluarganya. (ema)


BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 19:02

Misran, Pembakal Yang Jadi Pembicara Nasional

Berawal dari postingan video tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)…

Jumat, 17 September 2021 18:45

Sebentar Lagi Wisata Kampung Kuin Kacil Dibuka

Dulu Kuin Kacil cuma daerah terpencil di pinggiran kota. Sekarang…

Jumat, 17 September 2021 13:38

Shafa Nur Anisa, Putri Cilik Kalsel 2021 dari Tapin

Shafa Nur Anisa menorehkan prestasi membanggakan untuk Kabupaten Tapin. Ia…

Selasa, 14 September 2021 15:50

Syahridin, Kepala Desa Inspiratif dari Balangan

Keberadaan Pasar Budaya Racah Mampulang dan titian bambu atas sawah…

Selasa, 14 September 2021 15:44

Cerita Balai Bini Pengambangan: Diusulkan Cagar Budaya, Pernah Ditawar Turis Korea

Rumah almarhum pembakal Haji Sanusi di Kelurahan Pengambangan RT 11…

Kamis, 09 September 2021 13:56

Rumbih, Pengayuh Becak Populer yang Menjadi Youtuber

Sudah menjadi ciri khasnya, kemana-mana selalu bersama becak. Itu lah…

Kamis, 09 September 2021 12:27

Cerita Agen Koran di Era Digital: Malah Lebih Untung Menjual yang Bekas

Di era senja media cetak, ada agen koran di Banjarmasin…

Rabu, 08 September 2021 13:31

Sedotan Purun, Kerajinan Desa Banyu Hirang Yang Mendunia

Isu lingkungan mengurangi sampah plastik membuka peluang usaha sedotan organik…

Rabu, 08 September 2021 12:22

Menengok Fasilitas Isoter di Mulawarman: Cukup Bawa Perkakas Mandi

Seorang perawat berjalan melintasi lorong gedung. Berhenti di depan sebuah…

Senin, 06 September 2021 15:59

Dari Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin: Main Mamanda, Ibnu Jadi Raja

Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin periode 2021-2026 diramaikan dengan pementasan kesenian…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers