MANAGED BY:
MINGGU
19 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 02 Januari 2017 11:57
Selawat, Dangdut, Reggae, dan Kembang Api Menyatu di Perayaan Malam Tahun Baru
NONTON - Penumpang kelotok menyaksikan malam tahun baru di atas air.

PERNAH anda berada satu waktu dan tempat dengan selawat, oplosan dan reggae? Perpaduan alunan timur tengah, dangdut Jawa Timuran dan Jamaika melebur dalam kebiasaan perayaan meriah Cina. Semua itu berlangsung di pinggiran sungai bekas kejayaan Kerajaan Banjar.

Zalyan Shodiqin Abdi, Banjarmasin

Saya beruntung menikmati pergantian malam tahun baru menggunakan kelotok menyusuri sungai Martapura di kota Banjarmasin. Pengalaman kali pertama. Pengalaman yang kemudian membuat saya terperangah. Betapa banyaknya keunikan bantaran sungai kota Banjarmasin. Betapa tingginya toleransi di kota ini, bahkan saat kumpulan bacaan selawat harus bersaing merebut massa dengan hingar dangdut dan reggae.

Waktu itu, sekitar pukul 22.00 Sabtu (31/12), saya pelesir malam tahun baru menggunakan kelotok, kapal bermesin yang panjangnya sekitar 20 meter dan lebar 4 meter. Banua Anyar ke pusat kota sekitar empat kilometer jaraknya.

Bunyi kelotok begitu khas, suaranya memantul ke rumah-rumah yang ada di bantaran kawasan Banua Anyar. Kelotok bergerak pelan ke arah pusat kota di dekat Menara Pandang dan Patung Bekantan. Karena di sana pusat keramaian berlangsung.

Beberapa kali operator kelotok menepi ke dermaga. Menjemput penumpang yang ingin menikmati pesta kembang api. Satu orang dipungut bayaran Rp20 ribu. Banyak remaja dan anak-anak. Tapi ada juga wanita usia lanjut turut serta. Mereka berpakaian sekadarnya, membawa cemilan dan minuman.

Di perjalanan saya memilih duduk di atas atap kapal yang dibuat dari susunan papan berbentuk datar seperti lantai. Angin berhembus. Riak sungai menampar pelataran dan pinggir rumah penduduk. Sungai Martapura pada puncak air pasangnya.

Sejauh mata memandang terlihat bantaran sungai hidup dengan aktivitasnya. Di sebelah kiri, modern dengan siring yang dibangun di era mantan Walikota Muhidin, sepertinya di kawasan Keramat dan Sungai Bilu, Sungai Mesa. Sementara di kanan rumah-rumah penduduk menjorok hingga ke bantaran sungai. Beberapa tergenang pelatarannya di kawasan Sungai Jingah.

Anak-anak berlarian di darat. Di satu dua buah rumah penduduk alunan musik dangdut keluar dari pengeras suara yang ditaruh di luar. Ada juga gadis-gadis berkumpul cekikikan sembari menatap kelotok dan perahu hilir mudik.

Kadang dari arah belakang disalip perahu-perahu mesin. Mereka melaju membawa beberapa manusia ke pusat keramaian. Tidak pakai pelampung. Bahkan gadis-gadis di beberapa perahu asyik menyisir malam dengan baju agak terbuka. Ada yang rambutnya berwarna merah tua meski di kegelapan, berpendar ketika terkena nyala kembang api dan sorot lampu. Teriakan-teriakan kegembiraan terdengar terus dari bantaran sungai.

Mendekati kawasan siring kota Banjarmasin, rumah-rumah sudah mulai jarang. Berganti lampu-lampu terang. Terlihat jubelan manusia, di kiri dan kanan. Jembatan Pasar Lama penuh cahaya lampu kendaraan. Membentang di hadapan kami, jembatan mandi cahaya. Kota sibuk dan macet, kontras dengan kelotok yang melenggang bebas menerabas aliran sungai. Sesekali bergoyang terkena ombak dari perahu mesin.

Di kanan, di Jalan Sudirman depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin lautan manusia. Begitu juga di seberangnya, Jalan Kapten Tendean. Kami melintasi Menara Pandang yang berada di sebelah kiri. Samar terlihat kumpulan manusia berbaju putih, mengibarkan bendera dan dari pengeras suara terdengar nyanyian selawat yang sedang populer di layar TV itu.

Pemko Banjarmasin menggelar malam pergantian tahun dengan acara selawat berjamaah di sana. Beberapa hari sebelumnya spanduk pengumuman itu dipasang di sudut-sudut kota, dan beberapa media elektronik juga memberitakannya.

Dekat ke arah Patung Bekantan sekitar 300 meter dari Menara Pandang, puluhan kelotok hilir mudik. Ada ratusan perahu mesin tambat di siring. Siring Tendean jika pagi hari adalah kawasan wisata pasar terapung.

Massa di Tendean seperti terbagi tiga golongan. Pertama di Menara Pandang gelar selawatan. Kedua di areal Patung Bekantan, panggung orkes melayu lengkap dengan artisnya menghibur warga. Tepat di tengah-tengah dua acara itu ada hiburan musik band, lagu reggae menghentak dengan irama riang.

Di tengah sungai, di antara hilir mudik kelotok berlampu warna-warni, suara selawat, dangdut dan reggae saling beradu. Sesaat sebelum pukul 00.00 malam sirene dari kawasan Patung Bekantan terdengar. Untuk pengeras suara kawasan ini memang lebih nyaring dibanding dua kawasan lainnya.

Satu persatu kembang api meledak di atas langit. Meski tidak seramai tahun lalu, pesta kembang api yang merupakan tradisi bangsa Tiongkok itu tetap menyedot perhatian warga di bantaran sungai Banjarmasin.

Puas menyaksikan keramaian, kelotok berbalik pulang. Air semakin pasang, rumah-rumah di bantaran banyak tergenang pelatarannya. Di beberapa sudut anak remaja pria memutar musik DJ sembari goyang tanpa baju. Di satu rumah mendekati Banua Anyar, pria tua tanpa baju asyik menimba air, mencuci sesuatu.

Sesekali lewat perahu mesin yang diawaki lelaki tua dan ibu tua, mereka juga pulang ke rumah. Keramaian usai, anak ramai bercerita kembang api, para orang tua kembali ke rutinitas untuk esok hari.(az/dye)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 19:02

Misran, Pembakal Yang Jadi Pembicara Nasional

Berawal dari postingan video tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)…

Jumat, 17 September 2021 18:45

Sebentar Lagi Wisata Kampung Kuin Kacil Dibuka

Dulu Kuin Kacil cuma daerah terpencil di pinggiran kota. Sekarang…

Jumat, 17 September 2021 13:38

Shafa Nur Anisa, Putri Cilik Kalsel 2021 dari Tapin

Shafa Nur Anisa menorehkan prestasi membanggakan untuk Kabupaten Tapin. Ia…

Selasa, 14 September 2021 15:50

Syahridin, Kepala Desa Inspiratif dari Balangan

Keberadaan Pasar Budaya Racah Mampulang dan titian bambu atas sawah…

Selasa, 14 September 2021 15:44

Cerita Balai Bini Pengambangan: Diusulkan Cagar Budaya, Pernah Ditawar Turis Korea

Rumah almarhum pembakal Haji Sanusi di Kelurahan Pengambangan RT 11…

Kamis, 09 September 2021 13:56

Rumbih, Pengayuh Becak Populer yang Menjadi Youtuber

Sudah menjadi ciri khasnya, kemana-mana selalu bersama becak. Itu lah…

Kamis, 09 September 2021 12:27

Cerita Agen Koran di Era Digital: Malah Lebih Untung Menjual yang Bekas

Di era senja media cetak, ada agen koran di Banjarmasin…

Rabu, 08 September 2021 13:31

Sedotan Purun, Kerajinan Desa Banyu Hirang Yang Mendunia

Isu lingkungan mengurangi sampah plastik membuka peluang usaha sedotan organik…

Rabu, 08 September 2021 12:22

Menengok Fasilitas Isoter di Mulawarman: Cukup Bawa Perkakas Mandi

Seorang perawat berjalan melintasi lorong gedung. Berhenti di depan sebuah…

Senin, 06 September 2021 15:59

Dari Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin: Main Mamanda, Ibnu Jadi Raja

Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin periode 2021-2026 diramaikan dengan pementasan kesenian…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers