MANAGED BY:
SENIN
06 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 13 Januari 2017 15:22
Kisah Kakek Penjual Kerupuk di Batulicin, Setiap Hari Berjalan 20 Kilometer
PERJUANGAN – Kakek Sulaiman memikul barang dagangannya dan berjalan kaki sejauh 20 kilometer untuk menjual kerupuknya.

PROKAL.CO,  

Meski sudah tak muda lagi, Sulaiman (70) tetap berkeliling menjajakan dagangannya. Sejak 1997 silam, warga Jalan Kupang Desa Sarigadung Kecamatan Simpang Empat ini berjualan kerupuk keliling dengan berjalan kaki.

 

KARYO, Batulicin

SULAIMAN sehari-hari bekerja berjualan kerupuk keliling Kota Batulicin. Sejak pukul 06.30 Wita, ayah empat anak ini memikul kerupuknya dari rumah ke rumah. Dia berjalan kaki mulai Jalan Kupang sampai ke Simpang Empat Batulicin.

Sekadar diketahui, jarak antara Jalan Kupang sampai Simpang Empat Batulicin mencapai 4,5 kilometer. Artinya, kalau pulang pergi (PP) jaraknya 9 kilometer. Dari Simpang Empat Batulicin Sulaiman berjalan kaki lagi melewati Jalan Kodeco. Jarak Simpang Empat Batulicin ke Jalan Kodeco sekitar 3 kilometer. Dari Jalan Kodeco menuju rumahnya sekitar 4 kilometer. Jadi total jarak tempuh yang dilalui Sulaiman sekitar 16 kilometer. Itu belum dihitung jarak tempuh masuk ke komplek dan gang-gang yang menjadi langganan Sulaiman. “Kalau ditotal sekitar 20 kilometer,” kata Sulaiman.

Kerupuk yang dijualnya bervariasi, seperti kerupuk udang, trengginang lakatan, kerupuk nasi, kerupuk bandung, kerupuk tempe, kerupuk bandung. Harga jual sebungkusnya Rp5 ribu. Sulaiman mengaku hanya mendapat untung Rp500 untuk setiap barang yang berhasil dijualnya. Dalam sehari Sulaiman bisa membawa 180-200 bungkus. Itupun bisa habis terjual dan kalaupun ada sisa hanya sekitar 20 bungkus saja, namun jarang tersisa. “Saya ngambil di pabrik. Saya cuma dapat untung Rp500 per bungkusnya, dan sisanya Rp4500 saya setor ke pabrik,” cerita Sulaiman, kepada Radar Banjarmasin.

Pekerjaan berjualan kerupuk sudah dia tekuni sejak tahun 1997 yang lalu. Sebelum itu, kakek empat cucu dan sepuluh buyut ini bekerja berjualan sayuran di daerah perdesaan yang jaraknya cukup jauh dengan ibukota kabupaten. “Tapi hanya bertahan sampai dua tahun saja. Setelah itu saya pindah ke kota dan berjualan kerupuk,” cerita Sulaiman.

Sulaiman hanya hidup bersama istrinya di rumah. Dengan upah yang diperolehnya itu, Sulaiman menggunakannya untuk membeli keperluan sehari-hari. “Kalau lagi beruntung, sehari saya bisa memperoleh upah antara Rp60-75 ribu,” ujarnya.

Selain untuk memenuhi kebutuhan dapurnya, Sulaiman juga menyisihkan hasil keringatnya itu untuk membantu keperluan mondok cucunya yang ada di Barabai.

“Selama mondok, kakek sering membantu keperluannya. Alhamdulillah selama ini tidak pernah kekurangan. Tapi memang tidak bisa membeli kebutuhan lain,” terang Sulaiman.

Selain itu, uang hasil jerih payahnya sebesar Rp10 ribu dia sisihkan untuk keperluan mingguan dengan ikut arisan warga di kampungnya. “Tiap minggu kumpul-kumpul sama warga kampung. Seminggu Rp10 ribu, ada sekitar 40 orang yang ikut arisan. Sekali narik dua orang yang dapat,” tutur kakek kelahiran  Tasikmalaya, Jawa Barat ini.

Walaupun hidup serba pas-pasan, Sulaiman tidak pernah meminta-minta. Dia hanya ingin mencari rejeki yang halal dengan kerja kerasnya. Namun dia mengaku pernah mendapatkan bantuan BLT dua kali pencairan, setelah itu tidak pernah lagi.

“Sayapun bingung kenapa tidak dapat lagi. Mungkin dikira Ketua RT, saya sudah makmur berjualan kerupuk,” kelakar Sulaiman. (yn/ram)

loading...
BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Senin, 06 April 2020 11:26

Kala Video Ayah dan Balita Viral di Tengah Pandemi; Berawal dari Iseng, Diputar TV Nasional

Dalam sepekan terakhir, warga Banua sedang diramaikan dengan salah satu…

Minggu, 05 April 2020 09:30

Cerita Dokter dan Perawat di Era Corona; Lebih Sibuk, Kini Mandi pun di Rumah Sakit

Dokter dan perawat berada di garis terdepan dalam melawan virus…

Minggu, 05 April 2020 09:13

Program Acil Asmah; Belanja Sayur Bisa Lewat WhatsApp

Banyak cara untuk meringankan beban warga di tengah pandemi. Salah…

Kamis, 02 April 2020 14:56

Sibuknya Peserta dan Alumni Pelatihan Menjahit Saat Pandemi

Akibat Covid-19, masker bedah dipasaran menjadi langka. Untuk menyiasati itu,…

Rabu, 01 April 2020 13:05

Kala Dokter Menginisiasi Produksi APD Secara Mandiri; Libatkan Guru, Anak SMK hingga Tukang Ojek

Minimnya ketersediaan alat pelindung diri (APD) untuk para tenaga medis…

Senin, 30 Maret 2020 12:36

Berita Baik di Tengah Pandemi Corona: Barista Kopi Dibalik Gerakan Pasang Keran Gratis

Dalam perang melawan wabah, Anda tak perlu menunggu menjadi hartawan…

Jumat, 27 Maret 2020 11:51

Fenomena Takhayul Pesisir Kalsel di Tengah Corona

Optimisme beberapa pejabat pemerintah, yang percaya warga akan disiplin tanpa…

Kamis, 26 Maret 2020 13:02

Pakai Jas Hujan, Berharap Kiriman APD Bukan Hanya bagi Perawat Saja

Alat pelindung diri (APD) menjadi pakaian paling "tren" sekarang ini.…

Rabu, 25 Maret 2020 11:49

Cerita-cerita Calon Pengantin yang Gagal Gelar Resepsi; Katering Sudah Pesan Akhirnya Dibagikan ke Anak Yatim

Niat Arif Hendy Wijaya (25) warga Desa Barambai untuk bersanding…

Senin, 23 Maret 2020 12:51

Bincang Santai dengan "Indro Corona"; Sudah Ada Sebelum Masehi, Sembuh dengan Vitamin E

Muhammad Indro Cahyono akhir-akhir ini sibuk mondar-mandir kantor-kantor pemerintah untuk…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers