MANAGED BY:
SELASA
31 MARET
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 17 Januari 2017 17:19
Politik Komik si Topi Habang, Kritikan Komikus Banua di Instagram
ALAT TEMPUR - Abdie Rahman alias @ngomikmaksa saat berpose untuk Radar Banjarmasin bersama peralatan tempurnya

PROKAL.CO, Instagram menjadi senjata baru komikus. Dengan modal minim, tanpa harus menggaet penerbit buku atau media mainstream, karya mereka tetap bisa dinikmati ribuan pembaca.

***

AKUN @ngomikmaksa sudah di-follow 36,5 ribu pengguna Instagram. Akun itu milik Abdie Rahman, pemuda kelahiran Banjarmasin 23 Oktober 1992. Ia kontributor tetap poliklitik.com, situs ilustrasi yang menyoroti isu politik, budaya dan lingkungan.

Abdie mulai menseriusi komik strip sejak pertengahan 2015. Berawal dari ajakan membuat komik untuk kampanye HAM (Hak Asasi Manusia) di Yogyakarta. Ketika itu untuk mengenang tragedi pembantaian orang-orang kiri pada September 1965. "Saya putuskan untuk mengangkat sosok Wiji Thukul," ujarnya, kemarin (16/1).

Wiji adalah penyair yang hilang diculik jelang pecahnya Reformasi 1998. Puisinya dikumpulkan dalam buku berjudul Nyanyian Akar Rumput. Petikan-petikan puisi Wiji menjadi menu wajib dalam banyak demonstrasi mahasiswa. "Tak ada alasan khusus. Suka saja sama puisi-puisinya," katanya.

Tak disangka, komik pertamanya itu diganjar predikat Juara II Nasional. Sejak itu, Abdie mulai pede mengunggah karya-karyanya. "Kenapa IG, karena paling hits. Kualitas gambarnya juga paling bagus. Pernah nyoba Facebook, tapi kurang asyik," jelas warga Jalan Pangeran Antasari Kecamatan Banjarmasin Timur tersebut.

Jika diperhatikan, karya Abdie punya ciri khas. Guratannya kasar dan sederhana. Menyuarakan kritik sembari diselipi humor. Rereferensinya mengacu pada berita yang sedang panas di jagat media sosial.

Yang menarik, Abdie tak punya latar belakang sebagai seorang aktivis, boro-boro sebagai sarjana seni. "Kuliah saja tidak. Saya cuma lulusan SMA," ujarnya lantas tertawa. Abdie alumni SMAN 3 Banjarmasin angkatan 2009.

Untuk membuat komik, ia juga belajar otodidak. Alasannya, tak mau berkutat dan pusing dengan teori. Ia sangat terpengaruh dengan karya-karya komikaze.net milik Erdil Yasaroglu. Di Yogya pula ia bertatap muka dengan Erdil. "Senang ngomik memang sejak zaman sekolah. Tapi dulu hanya dibaca kalangan terbatas untuk kawan-kawan sekelas," kisahnya.

Berbeda dengan komikus luar negeri yang diperlakukan bak selebriti, komikus di daerah ini masih dipandang sebelah mata. Abdie sendiri harus mencari nafkah dari bidang yang sangat jauh dari komik. Bekerja sebagai seorang teknisi ponsel di kawasan Jalan Cempaka.

Kembali ke karya, hampir semua tokoh pernah dikomiknya. Dari Joko Widodo, Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yuhdoyono, Setya Novanto, Fadli Zon, Warianto, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Ridwan Kamil, sampai Walikota Banjarmasin Ibnu Sina. Untuk yang terakhir, menyoal kesenjangan antara visi sang walikota tentang kota sungai dan masih ramainya jamban apung.

Kenapa tak banyak karyanya yang berbahasa Banjar dan menyinggung isu lokal? Abdie mengaku kesulitan. Alasannya, editornya menuntut isu yang bisa dinikmati pembaca dari semua kota, tak hanya pembaca Banjarmasin. "Pingin sih menggarap isu-isu lokal, tapi tidak mudah," jawabnya.

Soal cara kerja, Abdie memakai sistem hybrid. Artinya campuran antara manual dan digital. Pertama, ia corat-coret di buku sketsa dengan pensil dan spidol. Begitu gambar dan kalimatnya terasa pas, baru di-scan. Di komputer tiap panel diberi warna. Untuk satu karya ia butuh waktu minimal dua jam.

Sebagai karya seni, komik tentu punya batasan etika. Saat membuat komik tentang seorang tokoh, ia tak pernah menyebut nama. Pembaca dibiarkan mengenali sendiri tokoh yang sedang disindir. "Editor juga biasanya menolak kalau buliannya sudah kelewatan," tukasnya.

Dalam beberapa karyanya, muncul karakter bernama Lovi yang selalu mengenakan topi bisbol warna habang (merah). "Lovi muncul dan menghilang sesuka hati. Kadang nongol, kadang tidak," jelasnya. Topi merah itu pula yang menjadi ciri khas Abdie. Selagi kerja atau nongkrong, topi itu dikenakannya. Termasuk juga saat wawancara ini berlangsung.

Yang menjadi pertanyaan, Abdie tak pernah membubuhkan tanda air (watermark) pada komik yang diunggah. Alasannya, ia ingin karyanya di-repost sebanyak mungkin. Celakanya, ada saja yang mencuri karyanya. "Di-crop lalu diklaim sebagai karya miliknya," ujarnya menggeleng-gelengkan kepala.

Lantas, adakah keinginan untuk naik kelas dari medium IG ke buku? Abdie rupanya pernah mendapat tawaran sebuah penerbit. "Beraaat! Saya sadar diri, belum siap," ujarnya diiringi tawa.

Apa harapan Abdie untuk perkembangan komik Banua? Sebenarnya sudah ada komunitas bernama @komik_ulun. Tapi geraknya masih sendiri-sendiri. "Semoga nanti ada even besar untuk menyatukan semua komikus Banua," tuntasnya.(fud/at/dye)


BACA JUGA

Senin, 30 Maret 2020 12:36

Berita Baik di Tengah Pandemi Corona: Barista Kopi Dibalik Gerakan Pasang Keran Gratis

Dalam perang melawan wabah, Anda tak perlu menunggu menjadi hartawan…

Jumat, 27 Maret 2020 11:51

Fenomena Takhayul Pesisir Kalsel di Tengah Corona

Optimisme beberapa pejabat pemerintah, yang percaya warga akan disiplin tanpa…

Kamis, 26 Maret 2020 13:02

Pakai Jas Hujan, Berharap Kiriman APD Bukan Hanya bagi Perawat Saja

Alat pelindung diri (APD) menjadi pakaian paling "tren" sekarang ini.…

Rabu, 25 Maret 2020 11:49

Cerita-cerita Calon Pengantin yang Gagal Gelar Resepsi; Katering Sudah Pesan Akhirnya Dibagikan ke Anak Yatim

Niat Arif Hendy Wijaya (25) warga Desa Barambai untuk bersanding…

Senin, 23 Maret 2020 12:51

Bincang Santai dengan "Indro Corona"; Sudah Ada Sebelum Masehi, Sembuh dengan Vitamin E

Muhammad Indro Cahyono akhir-akhir ini sibuk mondar-mandir kantor-kantor pemerintah untuk…

Minggu, 22 Maret 2020 05:48

Melihat Penerapan Social Distancing di Bandara Syamsudin Noor

Upaya pencegahan dan meminimalisir penyebaran virus corona atau Covid-19 dilakukan…

Kamis, 19 Maret 2020 11:54

Kondisi Jembatan Ulin Desa Gadung Hilir; Atasnya Masih Bagus, Bawahnya Lapuk Termakan Usia

Jembatan di Rukun Tetangga (RT) 1 di Desa Gadung Hilir…

Rabu, 18 Maret 2020 13:12

Tangkal Corona, SMKN 1 Banjarbaru Membuat Hand Sanitizer Sendiri

Di tengah pandemi virus corona atau Covid-19, orang-orang rela membeli…

Minggu, 15 Maret 2020 07:32

Diduga karena Dampak Peledakan Area Pertambangan, Rumah Warga Desa Pantai Cabe Retak-retak

Warga Desa Pantai Cabe Kecamatan Salam Babaris resah. Hampir semua…

Rabu, 11 Maret 2020 14:27

Susahnya Menjaga Kayu Hutan di Pulau Laut: Kayu Disita, Petugas Hutan Dikalungi Parang

Dewi Wulansari hampir kehilangan nyawanya saat mengamankan kayu diduga hasil…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers