MANAGED BY:
JUMAT
15 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Senin, 30 Januari 2017 17:58
Opini
Hoax, Medsos dan Pendidikan Literasi

Oleh : Ahmad Syawqi

Ilustrasi

PROKAL.CO, Sekarang ini masyarakat ramai membicarakan terkait dengan penyebaran berita hoax (pemberitaan palsu/direkayasa) di media sosial yang berdampak negatif bagi masyarakat sehingga menimbulkan kekerasan, kebingungan, rasa tidak aman, bahkan menyebabkan konflik suku, agama, ras antar golongan (SARA).

Penyebaran hoax ini tentunya didukung adanya kemajuan teknologi informasi yang begitu cepat dan mudah dalam memproduksi informasi, melalui berbagai media mulai dari media sosial seperti facebook, twitter, ataupun pesan telpon genggam seperti, whatsapp dan lain sebagainya.

Perkembangan teknologi informasi telah membuat dunia tidak lagi awam dengan yang namanya internet. Di Indonesia, perkembangan internet begitu pesat. Jika dulu orang mengakses internet hanya melalui warnet atau computer, kini kita bisa mengakses internet bisa melalui smartphone. Dan di Indonesia sendiri, separuh dari penduduknya awam dengan penggunaan internet. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia pada 2016, mencapai 132 juta jiwa. 100 juta diantaranya mengakses internet melalui smartphone. Bisa diartikan, masyarakat bisa mengakses internet kapan saja dan dimana saja.

Jika merujuk data diatas, wajar jika media sosial begitu pesat di Indonesia. Bahkan Indonesia merupakan salah satu negara yang penduduknya aktif menggunakan media sosial seperti facebook, twitter ataupun media sosial lainnya. Bahkan data Kominfo menyebutkan, setidaknya ada sekitar 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia yang sudah aktif menggunakan media sosial.

Dalam perjalanannya, internet tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk berinteraksi ataupun mencari teman. Kita juga bisa mengakses internet untuk kebutuhan mencari jual beli, sampai mencari informasi. Berbagai informasi dari belahan negeri manapun bisa diakses dengan mudah dan cepat. Begitu juga informasi yang mendidik, informasi yang valid, ataupun informasi yang tidak bisa dipercaya, juga begitu marak di media sosial. Ironisnya, keberadaan berita hoax  ini begitu masif di media sosial. Hoax tidak hanya digunakan untuk isu politik, tapi juga ekonomi, sosial, hingga nasionalisme. Sentimen keagamaan sengaja dimasukkan, agar keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa terganggu.

Hoax kian membanjiri media sosial. Sampai Desember 2016, Subdirektorat Cyber Crime Polda Metro Jaya mengonfirmasi, saat ini terdapat sekitar 300 konten media sosial teridentifikasi menyebarkan berita hoax. Berbagai berita yang disajikan lebih mengedepankan hasutan, kebencian, dan kebohongan publik tanpa merujuk pada data dan realitas sebenarnya. Tanpa didasari dengan pemahaman dan kematangan berpikir, berita hoax tengah mengancam integritas bangsa ini.

Di sisi lain, realitas ini sekaligus menegaskan bahwa masyarakat Indonesia belum melihat bahwa gencarnya arus informasi di media sosial sebagai proses pendidikan digital. Melainkan sebagai alat propaganda untuk melanggengkan provokasi satu sama lain. Sehingga, satu sama lain saling memusuhi. Karenanya, sangat urgen membentengi generasi bangsa dewasa ini dengan menggalakkan pemahaman literasi sejak dini.

Berdasarkan realitas di atas, sistem pendidikan dewasa ini yang berorientasi pada pendidikan budi pekerti harus diimbangi dengan implementasi pendidikan literasi. Hal ini sangat penting agar peserta didik mampu menyaring berbagai berita hoax yang terus menjamur di media sosial. Yang paling penting, pendidikan literasi tidak serta merta hanya mengajak peserta didik untuk membaca dan menulis secara drilling. Gerakan membaca dan menulis ini harus diimbangi sebagai sarana untuk membangun kerangka berpikir kritis dan logis bagi peserta didik dengan kegiatan membaca, menelaah, dan menulis. Sebagaimana Fisher (1993), menyatakan bahwa literasi merupakan kegiatan membaca-berpikir-menulis. Dalam artian, praktik membaca dan menulis lebih menitikberatkan kepada membaca dan menulis untuk belajar. Sehingga kegiatan pembelajaran tidak monoton dan pasif dengan membaca semata.

---------- SPLIT TEXT ----------

Pendidikan Literasi

Seorang Peneliti Pusat Studi Pendidikan Kebijakan (PSPK) Anindito Aditomo mengatakan literasi adalah salah satu syarat untuk menangkal berita hoax. Untuk bisa menakar argumen-argumen yang bertentangan, kita tentu perlu bisa membaca dan memahami berita yang disampaikan (literasi), Menurutnya, mendeteksi berita hoax juga perlu literasi pada level yang lebih tinggi, tidak hanya memahami konten bacaan, tetapi juga kemampuan mengevaluasi kesahihan informasi; bukti, klaim, hubungan sebab akibat. Tentu literasi tingkat tinggi ini harus dibangun di atas fondasi keterampilan literasi yang mendasar.

Menurut Tri Pudjati, transformasi pendidikan literasi juga harus diimbangi dengan beberapa hal. Pertama, membangun budaya pembelajaran kritis di sekolah. Peserta didik tidak boleh hanya pasif membaca dan menulis tanpa berpikir. Hal ini juga harus diimbangi dengan kegiatan pembelajaran yang menunjang, seperti kegiatan diskusi, kerja kelompok, memecahkan masalah, dan membangun sikap kritis terhadap berbagai isu yang tengah berkembang saat ini. Budaya berpikir kritis ini dapat dibangun melalui sinergi antara lingkungan sekolah, guru, dan masyarakat.

Kedua, kegiatan pembelajaran harus didampingi dengan guru kreatif dan melek informasi. Guru sebagai role model di sekolah harus memiliki kecakapan untuk menjauhkan peserta didik agar tidak terpengaruh dengan merebaknya berita hoax. Salah satunya, melalui penyampaian substansi materi pembelajaran yang disajikan oleh guru harus aktif, kreatif, dan kritis. Guru harus mampu mengajak peserta didik untuk membaca sebuah realitas, berpikir kritis, hingga menemukan problem solving atas persoalan tersebut. Selain itu, materi pembelajaran juga harus didesain semenarik mungkin dengan mengaitkan pada isu-isu yang tengah berkembang sekarang ini. Selaras dengan hal tersebut, Langer (2000), menegaskan bahwa kemampuan, berbahasa, berpikir, dan penguasaan substansi materi perlu dipadukan atau disinergikan.

Ketiga, meningkatkan pengawasan orangtua terhadap anak. Tidak dapat disangkal, dengan kecanggihan internet anak-anak dengan mudah mengakses dan mengonsumsi berita hoax. Ironisnya, dewasa ini anak usia Sekolah Dasar (SD) sudah lincah mengakses internet dan berselancar di media sosial tanpa pengawasan orangtua. Terlebih lagi bagi orangtua yang sibuk dengan segudang rutinitas di kantor. Anak-anak dibiarkan bermain smartphone sesuka hati asalkan mau ditinggal bekerja atau dititipkan kepada pengasuh.

Membentengi Dengan cara seperti inilah pendidikan literasi dapat disinergikan untuk membentengi peserta didik dari ancaman berita hoax. Karena itu, untuk membangun budaya berpikir kritis peserta didik harus dibangun melalui pendidikan literasi sejak dini. Pendidikan sebagai garda terdepan mencetak generasi bangsa yang berintegritas tidak boleh alpha untuk membentengi dari terpaan tsunami informasi hoax.

Harapannya, pendidikan literasi mampu mengubah budaya berpikir generasi bangsa di masa mendatang. Sebagai generasi kritis dan logis terhadap berita hoax yang tidak mendasar kebenarannya. Karena itulah, jadilah pribadi yang kuat dan cerdas. Bekalilah diri kita dengan keimanan dan kecerdasan. Seraplah informasi dari mana saja, agar kita bisa punya pembanding. Hal ini penting agar kita tidak mudah percaya, dengan berbagai informasi yang berkembang, termasuk informasi hoax yang begitu masif di dunia maya.()

Halaman:

BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*