MANAGED BY:
SABTU
22 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Kamis, 09 Februari 2017 16:17
Derita Panjang Pasien Gangguan Jiwa, Mau Pulang pun Ditolak Keluarga
ENAK LANTAINYA DINGIN: Para pasien RSJ Sambang Lihung tidur di lantai meski di sediakan ranjang.mereka tak bisa pulang karena keluarga menolak menjemput,atau alamat keluarga tak terlacak.

PROKAL.CO, Seakan tak ada tempat lagi bagi para penderita sakit jiwa di keluarganya. Meski sudah dinyatakan sembuh oleh pihak rumah sakit jiwa,  kerabat tak lekas menjemput. Bahkan, ada keluarga yang sengaja tak ingin menjemputnya karena dianggap menjadi aib.

Banyaknya pasien jiwa yang tak dijemput oleh keluarganya, membuat pihak rumah sakit jiwa kewalahan untuk menampung mereka di ruang transit. Seperti yang dialami RSJ Sambang Lihum, hingga kini di ruang transit mereka masih ada 78 pasien yang belum dijemput oleh keluarganya. "Sebagian dari mereka juga ada yang tidak tahu di mana keluarganya, karena diantar ke sini oleh Dinsos dan ditemukan di jalan," kata Direktur RSJ Sambang Lihum Dharma Putra.

Ia menuturkan, jika pasien yang sudah sembuh tidak ada yang menjemput atau lepas kontak dengan keluarganya. Maka akan dirawat di ruang transit sampai ada yang menjemputnya, atau hingga pasien ingat di mana keluarganya berada. "Kalau tak tahu di mana keluarganya, selamanya akan di sini hingga meninggal," ujarnya.

Bukan saja pasien yang tak punya keluarga yang dirawat hingga meninggal, beberapa pasien yang memiliki kerabat pun ada yang tinggal di rumah sakit sampai meninggal lantaran keluarganya menolak untuk merawatnya. Dharma menceritakan, pernah ada seorang ibu menderita gangguan jiwa diantar oleh anaknya ke RSJ Sambang Lihum untuk dirawat. Ketika ibu itu sudah sembuh, ternyata anaknya menolak untuk menjemputnya. "Karena tidak mau menjemput, pasien lalu diantar. Tapi anaknya tetap menolak dan menyerahkannya ke rumah sakit," ungkapnya.

Ia menambahkan, saat itu anaknya hanya memberitahukan bahwa ibunya beragama Islam. Jadi jika meninggal dunia dia meminta supaya ibunya dimakamkan layaknya orang Islam. "Karena ditolak, ibu itu lalu dirawat di sini hingga meninggal dunia," tambahnya.

Selain ibu itu, masih ada beberapa pasien lain di RSJ Sambang Lihum yang ditolak oleh keluarganya saat dipulangkan. Bahkan, ada yang tidak lagi menganggapnya sebagai keluarga karena merasa malu. "Alasan keluarga karena malu, di kampung pasien yang dirawat di sini dibilang keluarganya sedang belajar di pesantren supaya tetangganya tidak tahu kalau kerabatnya sedang menderita sakit jiwa," kata Dharma.

Sementara itu, Kepala Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Syarkiah mengungkapkan, selain malu beberapa keluarga mengulur-ngulur waktu untuk menjemput pasien karena beralasan tidak memiliki uang untuk membayar transportasi. "Rata-rata pasien yang belum dijemput tempat tinggalnya jauh, ada yang dari Kalteng," ungkapnya.

Jika tak dijemput, pasien akan diantar. Namun jika ditolak pasien akan dirawat oleh rumah sakit hingga meninggal. Untuk pemakaman, biasanya pihak rumah sakit berkoordinasi dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Banjarmasin agar menyediakan tanah di Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Kasi Rawat Jalan Intensif dan Darurat Salbiah menuturkan, seharusnya bagaimanapun kondisi yang dihadapi keluarga patut untuk menerima keberadaan seseorang yang mengalami gangguan jiwa. Sebab, seorang pasien sakit jiwa sangat memerlukan dukungan dari keluarga agar sembuh. "Kalau tak ada dukungan dari lingkungan, pasien yang sudah sembuh pun akan kumat," ujarnya.

Banyaknya pasien yang belum dijemput oleh keluarganya atau tak tahu di mana alamat kerabatnya membuat ruang transit di RSJ Sambang Lihum overload. Di ruang transit wanita misalnya, padahal hanya memiliki kapasitas 20 orang, saat ini harus diisi oleh 26 pasien. Di ruang transit khusus pria juga demikian, hanya berkapasitas 40 orang sekarang diisi oleh 51 pasien. (ris/by/ran)


BACA JUGA

Sabtu, 22 Februari 2020 17:15

Tercepat Dalam Penyaluran Dana Desa, Balangan Raih Penghargaan

PARINGIN  - Kanwil Ditjen Perbendaharaan (DJPBN) Kementerian Keuangan Provinsi Kalimantan…

Sabtu, 22 Februari 2020 17:13

Dewan Gali Raperda Perlindungan Hukum Tenaga Kerja

PARINGIN – Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Balangan,…

Sabtu, 22 Februari 2020 14:00

Haru-Tawa, Forkopimda Sambut Kapolres HSU AKBP Pipit dan Lepas AKBP Ahmad Arif

AMUNTAI -- Acara kenal pamit berlangsung hari di halaman Polres…

Sabtu, 22 Februari 2020 12:00

Guru Zuhdi: Jangan Saling Menghina dan Mengganggu

MARTAPURA - Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor mengajak segenap…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:58

Akhirnya, Pilgub Tanpa Calon Perseorangan

BANJARMASIN – Pemilihan Gubernur Kalsel tahun ini, dipastikan tak ada…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:54

MALU-MALU..! Koalisi Pilgub Masih Abu-abu

BANJARMASIN - Meski sudah mencukupi syarat kursi di DPRD Kalsel,…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:51
HAUL ABAH GURU SEKUMPUL KE-15

Bersiap Sambut Dua Juta Umat, Siapkan RS Lapangan di Sekumpul

MARTAPURA – Haul Abah Guru Sekumpul agenda terbesar melibatkan lintas…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:46

Jalan Aida ke Senayan Terbuka

BANJARMASIN - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) telah mengumumkan sejumlah…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:35

MELELAHKAN..! Jalur Perseorangan Tertatih Kumpulkan Dukungan

KOTABARU - Bakal calon Bupati jalur perseorangan Kotabaru, Burhanudin, keteteran…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:33

Pasangan MK-ZA Mendaftar di Tanbu

BATULICIN - Pasangan Hj Mila Karmila dan Zainal Arifin (MK-ZA)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers