MANAGED BY:
RABU
20 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Jumat, 10 Februari 2017 13:21
Opini
Kunci Menjadi Guru

Oleh: Hj.Lisa Aida,S.Pd

Ilustrasi guru (pinterest)

PROKAL.CO, Banyak yang mengira bahwa semua orang bisa menjadi guru. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Dalam pengalaman saya dan melihat pengalaman dari orang-orang lain, banyak juga yang akhirnya gagal menjadi guru. Kalaupun tetap berprofesi sebagai guru tapi hatinya tidak menjiwai atau memimpikan profesi lain yang lebih santai dan tidak harus mengajar.

Setiap tahun, jumlah para pendaftar di fakultas keguruan atau tarbiyah sangat banyak. Cita-cita guru adalah cita-cita yang dianggap bisa diraih tanpa keahlian tertentu. Apalagi guru kelas yang merangkap, dianggap mudah karena hanya mengajar anak-anak kecil.

Memang, profesi sebagai guru bisa dianggap gampang jika hanya dilakukan sehari dua hari. Ada banyak program yang membuat orang menjadi guru sehari dan diaggap sukses. Padahal, banyak dimensi yang membuat seorang guru menjadi guru sejati. Waktu yang panjang dan dilakukan tanpa bosan-bosan adalah ujiannya. Bagaimana guru mengajar dan menjiwai profesinya sebagai profesi seumur hidup tentu memiliki kesulitan sendiri.
Lalu bagaimana kunci menjadi seorang guru sejati?

Sederhana. Pertama, Guru terlebih dahulu harus menguasai bahan yang hendak diajarkan. Kalau bagian ini terpenuhi, bagian lain akan menjadi lebih mudah. Masalah terbesar para pengajar seringkali mereka tidak menguasai materi. Paham, tapi hanya sebagian. Itulah sebabnya penjelasan dari para ahli biasanya mudah dicerna karena para ahli paham dan membuat orang lain paham dengan mudah.

Dewasa ini, banyak guru yang tak paham dengan materi yang ia ajarkan. Ia sekedar menjadi tukang hafal. Selebihnya, ia melafalkan materi di depan kelas, dengan hafalan, atau membaca buku teks. Ia berharap murid-muridnya ikut jadi penghafal seperti dirinya. Hal ini membuat guru juga akan frustrasi karena dia harus menghafal sebelum muridnya hafal.

Kunci kedua adalah adanya keinginan untuk berbagi. Ingat, sekali lagi, mengajar itu berbagi. Kita membagikan apa yang kita tahu. Karena ingin berbagi, ada tujuan yang hendak kita capai, yaitu sampainya pengetahuan ke orang lain. Pengajaran jadi berbeda nuansanya bila yang mengajarkan berniat memamerkan pengetahuannya, atau ingin merendahkan orang lain. Untuk menjadi guru yang baik, perasaan seperti itu harus dihilangkan. Siswa adalah murid, bukan saingan guru.

Hal berikutnya yang penting dalam pengajaran adalah, berempati pada murid-murid. Guru harus mengerti bahwa daya nalar siswa masih dalam tahap perkembangan. Dia tidak serta langsung cerdas. Ada ungkapan setengah bercanda yang mengatakan bahwa orang yang sangat cerdas sulit menjadi guru yang baik. Yang bisa jadi guru yang baik adalah orang yang tidak terlalu cerdas. Ia dulu mengalami banyak kesulitan dalam belajar, sehingga tahu bagaimana kesulitan murid-muridnya sekarang. Orang-orang cerdas tidak akan pernah memahami kesulitan itu.

Yang terpenting dalam hal ini bukan soal pintar atau tidak, tapi soal empati. Coba bayangkan bagaimana kita menjelaskan suatu hal kepada anak kecil. Apa yang kita lakukan? Kita akan mulai menjelaskan dari hal yang sudah dia pahami, memakai kosa kata sederhana, sesuai perbendaharaan kata yang sudah dia miliki. Prinsip ini berlaku bagi pengajaran di semua tingkat. Karena itu, ketika kita hendak mengajar, kita perlu mengenali siapa yang hendak kita ajar.

Semuanya ini memang melelahkan karena guru harus mengesampingkan ego-nya. Jika guru tidak berempati maka dia susah menjadi guru yang baik. Hambatan terbesar dalam pengajaran adalah ketiadaan keinginan untuk mengajarkan. Banyak orang berpengetahuan yang menganggap hanya dia yang bisa menguasai sesuatu, sehingga enggan mengajarkan pada orang lain. Orang lain dia anggap tak akan bisa menguasai pengetahuan itu. Ada pula yang takut tersaingi, orang yang dia ajari kelak menjadi lebih ahli.

Mendidik dan mengajari adalah bagian yang sangat penting dalam kepemimpinan. Kepemimpinan yang sukses salah satu ukurannya adalah keberhasilan sang pemimpin mendidik kader-kader, dengan keahlian setara dengan dirinya, atau lebih tinggi. Tidak sedikit pemimpin yang gagal memahami aspek ini. Mereka mengira, menjadi pemimpin hebat itu adalah kalau ia bisa berdiri bak menara tinggi, di tengah orang-orang yang tak mampu menyamainya, sehingga ia menjadi sangat menonjol.

Singkat kata, menjadi guru itu sebenarnya adalah soal merendahkan diri di hadapan orang-orang yang menjadi tujuan kita berbagi. Jangan menyombongkan diri dengan ilmu yang kita punya, bahkan kepada murid-murid yang notabene di bawah kita. Bicaralah dan ajarilah dengan tetap rendah hati. Nikmatilah proses setiap anak murid. Itu menurut saya kunci menuju guru sejati.


*Guru SDN Gambah Kec Barabai HST


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*