MANAGED BY:
KAMIS
24 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Senin, 19 Juni 2017 16:24
Ekspedisi Islam 3: Berawal Dari Sistem Perdagangan Barter (Bagian 24)
MENANTANG: Satu-satunya pilihan menuju desa Riam Adungan hanya bisa melalui jalur sawit dan tambang.

PROKAL.CO, Jika titik liputan ekspedisi diurutkan berdasarkan tingkat kesulitan medan, Riam Adungan sudah dipastikan menjadi juaranya. Salah satu desa terpencil di kabupaten Tanah Laut ini harus ditempuh dengan menjajal jalur tambang dan sawit. Bagaimana dengan perkembangan syiar Islam di sana?

====================================================

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Riam Adungan, Tanah Laut

===================================================

"Gila!" kata itu menjadi favorit kami untuk mengutuk akses menuju Desa Riam Adungan. Satu-satunya pilihan menuju desa tersebut hanya bisa melalui jalur sawit dan tambang. Akhirnya, mau tak mau, kami harus menempuh jalur tersebut dibawah teriknya matahari siang itu.

Jarak dari gerbang areal pertambang menuju desa tak tanggung-tanggung membuat badan remuk, kurang lebih 50 kilometer. Medannya sulit. Jalannya penuh dengan bebatuan yang siap menghempas motor kalau tidak hati-hati. Debu-debu akibat truk yang lalu lalang juga menimpali wajah kami tanpa ampun. Tak sedikit titik jalanan yang sangat becek.

Kurang lebih 2 jam menyusuri jalanan tak beraspal. Akhirnya kami sampai di Riam Adungan. Kami memutuskan untuk rehat di tepian jalan desa. Walaupun berada di dekat areal sawit dan pertambangan, desa ini cukup banyak dihuni masyarakat. Rumah-rumah warga berjejer rapi. Urusan pekerjaan,  mayoritas warga desa memilih berkebun dan bertani.

Soal keyakinan, penduduknya rata-rata memeluk Muslim. Namun, tak sedikit juga warga adat dayak yang masih memegang teguh kepercayaan Kaharingan lantaran posisi desa yang berada di kawasan pegunungan meratus.

Dipilihnya Desa Riam Adungan sebagai titik liputan ekspedisi kali ini bukan tanpa alasan. Sebelum tahun 1975, desa ini seratus persen masih  dihuni oleh masyarakat adat. Lalu, menurut cerita, pasca tahun 1975 datanglah para pedagang muslim ke desa ini untuk menyiarkan ajaran Islam dengan menggunakan jalur sungai.

"Para pedagang waktu itu memakai sampan dan melawan arus Sungai Kintap yang deras untuk sampai ke desa kami," ujar Hasani sambil menunjuk Sungai Kintap yang masih jernih. Pria berumur 51 tahun ini jadi satu-satunya narasumber yang bisa diajak berbincang setelah kami sibuk berkeliling mencari orang yang tahu persis sejarah desa. Kami berbincang dengannya di tepian sungai yang penuh bebatuan.

Uniknya, sistem perdagangan pada waktu itu masih berupa barter. Padahal rupiah di tahun itu sudah lahir.  "Jadi kami bertukar barang yang kami miliki seperti atap rumah yang terbuat dari daun dengan bahan sembako yang mereka punya," tuturnya. Mereka mengaku sulit untuk mendapatkan uang di kawasan terpencil tersebut. "Makanya, kita pakai sistem barter, " ujar Hasani.

Salah satu tokoh dagang yang menyebarkan ajaran Islam bernama Syamsi. Ia adalah warga asli Kintap. Pedagang sekaligus guru agama getol mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat adat. "Masyarakat adat rata-rata tertarik dengan perilaku para pedagang muslim yang baik serta jujur dalam bergaul, rata-rata begitu," paparnya. Syamsi mengajarkan tata cara peribadatan dalam Islam dan berbagi pengetahuan tentang Islam yang ajarannya lemah lembut dan penuh kedamaian setiap kali ia datang.

Akhirnya, pasca 1975 terjadi Islamisasi besar-besaran. Hampir sebagian warga desa memeluk Islam. Hamsan, pembakal atau kepala desa ketiga desa Riam Adungan  yang saat itu ikut memeluk Islam juga memberikan pengaruh atas bertambahnya warga yang memilih Islam sebagai jalan kehidupan.

Sejak saat itu, syiar Islam terus berkembang di Riam Adungan. Kepala desa beserta warga setempat sepakat untuk mendirikan sebuah langgar sederhana dari kayu ulin. Guru-guru pengajian pun tak lupa didatangkan untuk menambah riuh peradaban Islam di salah satu pedalaman Tanah Laut ini. Hingga akhirnya satu buah masjid berdiri kokoh di pusat desa.

Lantas, bagaimana dengan warga yang masih memegang teguh kepercayaan adat setempat? "Mereka tak ada masalah dengan kami, malah kami hidup rukun dengan mereka, kita terlalu membuang waktu untuk berdebat soal kepercayaan," kata dia. (mr-149-rvn)


BACA JUGA

Kamis, 24 Oktober 2019 12:00

Eselon Dipangkas, Ribuan PNS Kalsel Terancam

BANJARMASIN - Presiden Joko Widodo menegaskan akan menyederhanakan birokrasi secara…

Kamis, 24 Oktober 2019 11:59

Fakultas Dipangkas, Dekan Terancam

BANJARMASIN - Mantan Menristekdikti, Mohamad Nasir berencana memangkas fakultas. Bahkan,…

Kamis, 24 Oktober 2019 11:54

Lusa, KPU Tetapkan Syarat Dukungan

BANJARMASIN – Jumlah minimum syarat dukungan bakal calon perseorangan akan…

Kamis, 24 Oktober 2019 11:31

Luruskan Pernyataan, Norman: Bartman Tak Dilarang Berpolitik

BANJARMASIN - Dua hari lalu, komunitas fans Barito Putera, Barito…

Kamis, 24 Oktober 2019 11:23

SK Belum Keluar, Organda Resah

BANJARMASIN - Setelah pemilihan ulang untuk mencari Ketua dan Wakil…

Kamis, 24 Oktober 2019 11:20

Fokus DPR, Hasnur Takkan Maju Pilwali

BANJARMASIN - Nama Hasnuryadi Sulaiman sempat muncul dalam kandidat Pilwali…

Kamis, 24 Oktober 2019 10:32
Pemko Banjarbaru

Ririen Tutup Pelatihan Kerajinan Purun

BANJARBARU - Ketua TP PKK Kota Banjarbaru Hj Ririen Nadjmi…

Kamis, 24 Oktober 2019 10:23
Pemkab Tanah Bumbu

Bentuk Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

BATULICIN - Desa Kuranji di Kecamatan Kuranji menerima bantuan pembangunan…

Kamis, 24 Oktober 2019 10:19
Pemkab Tanah Bumbu

Angsana Tuan Rumah FASI

BATULICIN - Kecamatan Angsana menjadi tuan rumah pelaksanaan Festival Anak…

Kamis, 24 Oktober 2019 10:18
Pemkab Tanah Bumbu

Bupati Serahkan 500 Mushaf Alquran

BATULICIN - Kabupaten Tanah Bumbu memperingati Hari Santri Nasional tahun…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*